Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (0)
Pernahkah anda mendengar ungkapan seperti ini:
“Kalau mau bisnis itu mesti butuh modal besar. Kalau modal cupet ya jangan bisnislah!”
atau yang begini:
“Kalau mau bisnis ya mesti mau repot. Rugi dalam bisnis itu sudah biasa”
Apakah anda percaya dengan ungkapan itu? Kalau iya, (maaf) berarti anda ketinggalan jaman. Kenapa begitu? Ya. Karena sekarang ada cara mudah dan murah memulai bisnis, yakni “Bisnis Reseller Dropshiping”.
Apa itu Reseller Dropshiping? Bisnis Reseller Dropshiping atau yang sering disebut (disingkat) dengan Dropship adalah sebuah sistem bisnis yang memungkinkan Anda menjual berbagai macam produk langsung dari produsen / grosir kepada konsumen. Enaknya, Anda tak perlu melakukan stok barang dengan belanja terlebih dulu. Bahkan tak perlu repot mengemas & mengirim barang kepada konsumen. Sangat murah dan mudah bukan.
:-)
Lalu apa yang Anda lakukan? Anda hanya melakukan penawaran atau promosi saja! Ya betul, hanya promosi saja. Terserah mau promosi lewat apa. Boleh lewat media online, seperti: toko online, blog, forum, milis, jejaring sosial (Facebook, Twitter), iklan baris, bahkan secara offline sekalipun.
Setelah Anda mendapatkan pesanan dari konsumen, produk akan dikemas dan dikirimkan langsung oleh produsen / grosir kepada konsumen / pembeli atas nama dan alamat Anda! Seakan-akan Andalah yang punya barang atau toko tersebut. Tentu peluang Anda untuk mendapatkan pesanan kembali dari konsumen yang sama cukup besar kan.
Enaknya lagi, di sini Anda bisa menentukan sendiri besar keuntungan yang Anda inginkan. Asyik kan?
:-)
Bisnis ini sangat cocok untuk Anda yang ingin berjualan tetapi tak punya modal, tak punya produk sendiri & tak mau repot dengan urusan pengemasan dan pengiriman barang. Yup, karena semua keribetan itu sudah ditangani pihak produsen / grosir yang bertindak sebagai penyedia layanan reseller dropship.
Anda berminat? Klik disini!
Supported by: www.BisnisMuda.web.id
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (4)
Anda penyuka fiksi? (boleh cerpen atau novel). Pernahkah anda terpancing emosi saat anda membaca ceritanya? (Emosi yang saya maksud tidak harus marah, bisa: menangis, tertawa, mencak-mencak, hingga tergerak untuk melakukan tindakan nyata). Padahal anda tahu, itu tulisan fiktif. Bahkan ketika anda sudah selesai membaca cerita, lalu buku ditutup, isi cerita seolah tetap berbisik dan hidup dalam kepala anda, untuk sekian lama.
Lalu kenapa ada pula cerita yang hanya memberi hiburan sesaat saja―ketika anda sedang membaca―dan sesudah itu anda lupa samasekali?
Apa sih rahasianya tulisan fiksi yang inspiratif?
Mohon bersabar. Mari dibahas pelan-pelan.:)
Sudah menjadi ketentuan, bahwa yang fiktif itu hanya berupa karangan. Meski dalam sampul sebuah novel, misalnya, tertera: ditulis berdasar kisah nyata, namun tentu tidak sepenuhnya nyata. Bisa saja sebagian memang berdasar kejadian nyata (faktual), namun pastilah sebagian tercampur polesan imajinasi penulisnya, terlepas dari berapa persen yang fakta (nyata), berapa persen yang fiktif (tidak nyata). Namun ajaibnya, meski sejak awal sudah sadar bahwa novel tidak sepenuhnya nyata, beberapa pembacanya terbujuk untuk melakukan hal serupa dalam novel itu. Kenapa bisa begitu?
Rahasianya adalah: cerita yang inspiratif tidak hanya mengisahkan kronologi sebuah peristiwa, namun juga menyisipkan nila-nilai (values). Nilai yang bagaimana? Menurut Derek Rowntree dalam karyanya “A Dictionary of Education”, nilai mengandung: moral, keindahan, kepercayaan, serta ukuran. Ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan penulis melalui sebuah cerita. Pesan yang mengandung nilai kebenaran.
Jadi intinya, cerita inspiratif tidak hanya menyampaikan sebuah cerita yang ”benar” (true), tapi juga menyampaikan sebuah “kebenaran”(truth).
Tentu berbeda. Menulis yang sekedar benar (true), hanya menceritakan jalannya cerita, memaparkan fakta-fakta. Tanpa ada sisipan pesan moral di dalamnya. Namun dalam menulis yang disertai kebenaran (truth), si penulis memberinya muatan-muatan pesan yang bermanfaat bagi pembacanya.
Ambil contoh: novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sebuah cerita tentang 10 anggota Laskar Pelangi yang belajar di sekolah yang ruang kelasnya lebih mirip kandang kambing dibanding kelas untuk belajar. Juga tentang Lintang yang rela bersepeda menempuh perjalanan 80 kilometer demi untuk sekolah.
Memang, sebagian fakta dalam novel itu benar―berupa pengalaman masa kecil Andrea―tapi tentu tidak seluruhnya benar. Namanya juga fiksi. Seperti jarak yang ditempuh Lintang, oke, kita menganggap angka 80 kilometer itu benar. Karena kita tidak ada di tempat itu dan secara langsung terlibat. Tapi sejatinya, terlepas dari kevalidan jarak yang ditempuh itu, ada kebenaran (truth) cerita berupa: betapa Lintang (seorang murid SD miskin) tetap bersemangat dan pantang menyerah demi meraih pendidikan.
Selain mampu memotivasi dan memberi asupan “nutrisi jiwa” bagi pembacanya, tulisan inspiratif yang mengandung nilai kebenaran (truth) kebal dimakan massa. Ia akan terus relevan seiring waktu yang menggelinding. Tentu menyenangkan bila tulisan kita tidak hanya menghibur, namun mampu mengajak orang untuk berbuat kebaikan.
Anda tertarik untuk mencobanya?
Salam inspirasi.
:)
(terilhami oleh tulisan Roy Goni berjudul Storytelling)
Lalu kenapa ada pula cerita yang hanya memberi hiburan sesaat saja―ketika anda sedang membaca―dan sesudah itu anda lupa samasekali?
Apa sih rahasianya tulisan fiksi yang inspiratif?
Mohon bersabar. Mari dibahas pelan-pelan.:)
Sudah menjadi ketentuan, bahwa yang fiktif itu hanya berupa karangan. Meski dalam sampul sebuah novel, misalnya, tertera: ditulis berdasar kisah nyata, namun tentu tidak sepenuhnya nyata. Bisa saja sebagian memang berdasar kejadian nyata (faktual), namun pastilah sebagian tercampur polesan imajinasi penulisnya, terlepas dari berapa persen yang fakta (nyata), berapa persen yang fiktif (tidak nyata). Namun ajaibnya, meski sejak awal sudah sadar bahwa novel tidak sepenuhnya nyata, beberapa pembacanya terbujuk untuk melakukan hal serupa dalam novel itu. Kenapa bisa begitu?
Rahasianya adalah: cerita yang inspiratif tidak hanya mengisahkan kronologi sebuah peristiwa, namun juga menyisipkan nila-nilai (values). Nilai yang bagaimana? Menurut Derek Rowntree dalam karyanya “A Dictionary of Education”, nilai mengandung: moral, keindahan, kepercayaan, serta ukuran. Ada pesan tersembunyi yang ingin disampaikan penulis melalui sebuah cerita. Pesan yang mengandung nilai kebenaran.
Jadi intinya, cerita inspiratif tidak hanya menyampaikan sebuah cerita yang ”benar” (true), tapi juga menyampaikan sebuah “kebenaran”(truth).
“Lho emangya beda?”
Tentu berbeda. Menulis yang sekedar benar (true), hanya menceritakan jalannya cerita, memaparkan fakta-fakta. Tanpa ada sisipan pesan moral di dalamnya. Namun dalam menulis yang disertai kebenaran (truth), si penulis memberinya muatan-muatan pesan yang bermanfaat bagi pembacanya.
Ambil contoh: novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata. Sebuah cerita tentang 10 anggota Laskar Pelangi yang belajar di sekolah yang ruang kelasnya lebih mirip kandang kambing dibanding kelas untuk belajar. Juga tentang Lintang yang rela bersepeda menempuh perjalanan 80 kilometer demi untuk sekolah.
Memang, sebagian fakta dalam novel itu benar―berupa pengalaman masa kecil Andrea―tapi tentu tidak seluruhnya benar. Namanya juga fiksi. Seperti jarak yang ditempuh Lintang, oke, kita menganggap angka 80 kilometer itu benar. Karena kita tidak ada di tempat itu dan secara langsung terlibat. Tapi sejatinya, terlepas dari kevalidan jarak yang ditempuh itu, ada kebenaran (truth) cerita berupa: betapa Lintang (seorang murid SD miskin) tetap bersemangat dan pantang menyerah demi meraih pendidikan.
Selain mampu memotivasi dan memberi asupan “nutrisi jiwa” bagi pembacanya, tulisan inspiratif yang mengandung nilai kebenaran (truth) kebal dimakan massa. Ia akan terus relevan seiring waktu yang menggelinding. Tentu menyenangkan bila tulisan kita tidak hanya menghibur, namun mampu mengajak orang untuk berbuat kebaikan.
Anda tertarik untuk mencobanya?
Salam inspirasi.
:)
(terilhami oleh tulisan Roy Goni berjudul Storytelling)
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (6)
Melihat dari dekat Kampung Pampang, Kampung Budaya Adat Dayak
Inilah posting terakhir tentang pengalamanku di Samarinda. Pengalaman yang paling kutunggu-tunggu dan menduduki rencana teratas dalam kunjunganku ke kota Samarinda: berkunjung ke kampung budaya Pampang. Kampung budaya adat Dayak.
Inilah posting terakhir tentang pengalamanku di Samarinda. Pengalaman yang paling kutunggu-tunggu dan menduduki rencana teratas dalam kunjunganku ke kota Samarinda: berkunjung ke kampung budaya Pampang. Kampung budaya adat Dayak.
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (7)
Tradisi Makan Ikan dan Wadai
Begitu tiba di rumah budhe, aku langsung merebahkan badan di atas karpet ruang tamu. Kepala pening mabuk kendaraan, perut mual akibat tak bersua dengan nasi lebih dari 12 jam, kaki-tangan pegal sebab kebanyakan duduk, sungguh siksaan sempurna di antara sambutan sengat matahari khatulistiwa.
Setelah menyalami kami, tuan rumah masuk sebentar, lalu keluar dengan sebakul nasi, sayur terong, ikan goreng, tempe goreng, dan sambal terasi. Hmm..sungguh tuan rumah yang pengertian. Hehe.. Kami pun makan bersama.
“Ini ikan haruwan. Silakan dicoba,” tuan rumah mempersilakan.
“Kalau di Jawa ikan gabus,” ia menambahi sambil tersenyum, ketika aku tak langsung mencicipi waktu dipersilakan tadi.
Kucuil sedikit. Rasanya memang serupa dengan ikan gabus yang pernah kumakan. Hanya saja lebih hambar. Berhubung lapar, aku tetap bersantap dengan lahap.
Sambil makan, sepupuku menerangkan, “Di sini ikan menjadi lauk wajib. Makan belum sempurna tanpa lauk ikan”. Aku mendengar sambil mengangguk sesekali.
Ikan yang disantap bisa ikan laut maupun air tawar. Namanya pun sebagain masih asing di telingaku. Ada ikan haruan (yang ternyata ikan gabus ala Kalimantan), ikan biawan (seperti ikan sepat), ikan biji nangka (seperti tongkol namun berwarna merah), dan lain-lain.
Wadai
Selain tradisi makan ikan yang terbilang tinggi, masyarakat Samarinda juga tak terlalu tergantung dengan: makan harus nasi. Lain dengan masayarakat di Blitar, setidaknya di desaku, yang selalu menyertakan nasi di setiap kesempatan makan: pagi, siang, dan malam.
Wadai amparan tatak yang rasanya mirip nagasari
Sekian dulu cerita saya. Sampai bertemu di kisah saya selanjutnya.
Yuk makan wadai..
:-)
Kisahku kali ini masih merupakan cerita pengalamanku di Samarinda. Namun sedikit berbeda dengan tulisan sebelumnya tentang Masjid Islamic Center dan Eksotika Sungai Mahakam, kali ini tak berhubungan dengan tempat. Melainkan tentang tradisi kuliner orang Samarinda.
Begitu tiba di rumah budhe, aku langsung merebahkan badan di atas karpet ruang tamu. Kepala pening mabuk kendaraan, perut mual akibat tak bersua dengan nasi lebih dari 12 jam, kaki-tangan pegal sebab kebanyakan duduk, sungguh siksaan sempurna di antara sambutan sengat matahari khatulistiwa.
Setelah menyalami kami, tuan rumah masuk sebentar, lalu keluar dengan sebakul nasi, sayur terong, ikan goreng, tempe goreng, dan sambal terasi. Hmm..sungguh tuan rumah yang pengertian. Hehe.. Kami pun makan bersama.
“Ini ikan haruwan. Silakan dicoba,” tuan rumah mempersilakan.
“Kalau di Jawa ikan gabus,” ia menambahi sambil tersenyum, ketika aku tak langsung mencicipi waktu dipersilakan tadi.
Kucuil sedikit. Rasanya memang serupa dengan ikan gabus yang pernah kumakan. Hanya saja lebih hambar. Berhubung lapar, aku tetap bersantap dengan lahap.
Sambil makan, sepupuku menerangkan, “Di sini ikan menjadi lauk wajib. Makan belum sempurna tanpa lauk ikan”. Aku mendengar sambil mengangguk sesekali.
Ikan yang disantap bisa ikan laut maupun air tawar. Namanya pun sebagain masih asing di telingaku. Ada ikan haruan (yang ternyata ikan gabus ala Kalimantan), ikan biawan (seperti ikan sepat), ikan biji nangka (seperti tongkol namun berwarna merah), dan lain-lain.
Di pasar tradisional dan di swalayan, mudah sekali dijumpai penjual ikan. Bahkan di beberapa ruas jalan, penjual ikan menggelar dagangannya di tepi jalan. Ikan yang di jual masih dalam keadaan segar. Beberapa dijual masih hidup. Di Blitar, hanya ikan lele yang dijual hidup-hidup.
Bila boleh berpendapat, Samarinda dan sekitar adalah surga pecinta ikan. Bagi kamu yang gemar makan ikan, lidahmu akan termanjakan di sini.
Bila boleh berpendapat, Samarinda dan sekitar adalah surga pecinta ikan. Bagi kamu yang gemar makan ikan, lidahmu akan termanjakan di sini.
Wadai
Selain tradisi makan ikan yang terbilang tinggi, masyarakat Samarinda juga tak terlalu tergantung dengan: makan harus nasi. Lain dengan masayarakat di Blitar, setidaknya di desaku, yang selalu menyertakan nasi di setiap kesempatan makan: pagi, siang, dan malam.
Mereka mangganti nasi dengan kue, yang mereka sebut wadai. Cukup sarapan dengan 2-3 potong wadai dan minum air di pagi hari. Begitu juga di saat berbuka puasa, kala bulan Ramadhan. Lain sekali dengan orang Blitar kebanyakan, yang meski sudah makan dua mangkuk bakso, 3 biji pisang goreng, dan semangkuk mie ayam, belum bisa dikatakan makan, kecuali menyantap sepiring nasi. (Saya termasuk di antaranya. Hehe..)
Ada beraneka kue tradisional yang kujumpai di Samarinda. Namanya pun masih terdengar asing di telingaku. Ada amparan tatak (komposisinya dan rasanya seperti nagasari, hanya berbeda dalam penyajian), ada papare (bentuknya dan warnanya seperti kue kelepon, namun sedikit memanjang dan rasanya lain), bobongko, aneka lapis yang tidak dinamai lapis, serta serabi yang disajikan apa adanya. Tak seperti serabi di Blitar yang dimakan bersama dawet (cendol), sehingga terkenal dengan dawet serabi.
Wadai amparan tatak yang rasanya mirip nagasari
Khusus untuk wadai serabi, rupanya beberapa orang Samarinda yang berjiwa inovatif telah mengubah citra tradisional dan kampungan yang melekat pada serabi, dan menjadikannya serabi modern dan berkelas. Caranya? Bila serabi tradisional disajikan apa adanya, mereka menciptakan serabi aneka rasa. Rasa nangka, rasa duren, bertabur meses, taburan keju, nanas, dan lain-lain. Tempat penjualan pun tak lagi melulu di pasar tradisional, melainkan di tempat-tempat yang bila dikunjungi anak muda, tidak membuatnya turun pamor: di ruko dan depan supermarket. Mari acungkan jempol untuk sang inovator serabi. :-)
Sebuah contoh yang bagus bukan. Bila sudah demikian, kue-kue tradisional khas daerah se-nusantara yang jumlahnya bejibun, tak perlu minder lagi untuk go internasional. Sederajat dengan pizza-nya orang Itali atau burger-nya Paman Sam.
Nah, sebelum kue-kue tradisional Indonesia merambah mancanegara, alangkah baiknya bila kita mencicipinya lebih dulu. Tentu tak lucu bila suatu ketika orang bule bererita, “Serabi itu enak ya? Aku suka yang rasa duren”. Sementara kita cuma bengong. Jangankan mencicipi, dengar namanya saja baru sekali. Plis deh!
Sebuah contoh yang bagus bukan. Bila sudah demikian, kue-kue tradisional khas daerah se-nusantara yang jumlahnya bejibun, tak perlu minder lagi untuk go internasional. Sederajat dengan pizza-nya orang Itali atau burger-nya Paman Sam.
Nah, sebelum kue-kue tradisional Indonesia merambah mancanegara, alangkah baiknya bila kita mencicipinya lebih dulu. Tentu tak lucu bila suatu ketika orang bule bererita, “Serabi itu enak ya? Aku suka yang rasa duren”. Sementara kita cuma bengong. Jangankan mencicipi, dengar namanya saja baru sekali. Plis deh!
Sekian dulu cerita saya. Sampai bertemu di kisah saya selanjutnya.
Yuk makan wadai..
:-)
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (13)
Eksotika Mahakam
Masih cerita tentang ikon kota Samarinda. Bila sebelumnya kukisahkan tentang masjid Islamic Center, kali ini tentang sungai Mahakam.
Tak banyak yang ku ketahui tentang sungai Mahakam. Nama Mahakam hanya sesekali ku dengar dulu ketika aku masih kelas 4 SD, saat pelajaran IPS. Juga ketika aku sering melewatinya di Blitar, kota kelahiranku, karena nama Mahakam digunakan sebagai nama jalan di Blitar. Namun berjumpa langsung dengan sungai terpanjang kedua di Kalimantan, setelah sungai Kapuas, ini baru sekarang kesampaian. Maka sayang bila pengalaman berharga ini, tidak kuceritakan kepada kalian.
Aku bukan seorang wartawan sungguhan. Maka sangat mungkin tulisanku nantinya miskin data dan subyektif. Tak mengapa. Karena perjalanan hidup adalah sejarah. Menarik atau tidak, sejarah patut ditulis dan dibagi-bagi. :-)
Dengan hanya mengandalkan panca indera, searching di internet, dan digital Nikon belum SLR (pinjaman dari sepupu), inilah pengalamanku berjumpa dengan Mahakam. Sungai dengan panjang sekitar 920 km ini melintasi wilayah Kabupaten Kutai Barat di bagian hulu, hingga Kabupaten Kutai Kartanegara dan Kota Samarinda di bagian hilir.
Singgahlah di tepi mahakam sembarang waktu. Lepaskan pandang ke segala penjuru. Setiap saat, perahu-perahu besar pengangkut ponton batubara hilir mudik melintas di atas Mahakam. Di sudut lain, puluhan perahu motor kecil nampak bersandar seperti melepas lelah. Begitu banyak perahu motor kecil di sungai Mahakam adalah gambaran, bahwa beberapa wilayah di Kalimantan Timur hanya dapat dijangkau dengan menggunakan transportasi sungai. Bahkan, transportasi sungai masih menjadi andalan bagi pengangkutan barang di Kalimantan Timur. Untuk perahu motor kecil, mereka menyebutnya ketinting. Sedangkan untuk yang lebih besar, taksi air. Perahu-perahu inilah andalan masyarakat sekitar untuk mengangkut hasil bumi yang diperdagangkan antarpulau, diekspor ke berbagai negara tetangga, para nelayan pencari ikan, serta untuk kegiatan jual beli ikan hasil tangkapan.
Sementara di tepian Mahakam, khususnya di sore dan malam hari, berjajar lapak-lapak penjual makanan dan minuman, demi memanjakan pengunjung yang menikmati panorama Mahakam. Seperti juga lapak makanan, pengunjung yang datang ke tepi Mahakam, semakin senja semakin ramai. Terutama pasangan pemuda pemudi.
Menyaksikan matahari lingsir ke peraduan, mendengar irama kecipak air yang menampar tepian, menghirup aroma segar air sungai, dan memasrahkan diri dibelai semilir sepoi, adalah kenikmatan tersendiri yang ditawarkan Mahakam.
Bila kawan ingin membeli oleh-oleh khas Kalimantan Timur, tak jauh dari Mahakam mudah sekali ditemui penjual amplang dan telur penyu.
Nah, apakah tulisanku ini cukup untuk membuat kamu tertarik untuk mengunjungi Mahakam?
:-)
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (4)
Megahnya Masjid Islamic Center
Terwujud juga keinginanku berkunjung ke kota Samarinda. Ibukota Kalimantan Timur yang terlintasi garis khatulistiwa itu, sejak bertahun silam ku cuma mendengar ceritanya. Kini aku benar-benar hadir dalam pelukannya.
Harapanku selalu bila diperkenankan ke Samarinda, tiga tempat yang “wajib” kukunjungi: Masjid Islamic Center, Kampung dayak yang dihuni penduduk asli borneo, sungai Mahakam yang disandari rupa-rupa kapal besar kecil, serta satu yang “sunah”: kompleks kerajaan tinggalan kasultanan di Tenggarong.
Senin, 25 Juli 2011, tiga hari terhitung sejak pesawat yang kutumpangi mendarat di bandara Sepinggan, Balikpapan, harapanku terwujud mengunjungi Masjid Islamic Center. Inilah masjid fenomenal yang menjadi salah landmark kota Samarinda itu.
Masjid Islamic Center berdiri megah di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. Masjid termegah dan terbesar kedua se-Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal ini berlatar depan berupa tepian sungai Mahakam—sungai terbesar di propinsi Kalimantan Timur.
Masjid ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi.
Bangunan masjid ini memiliki sebanyak 7 menara dimana menara utama setinggi 99 meter yang bermakna asmaul husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99. Menara utama itu terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Sementara itu, anak tangga dari lantai dasar menuju lantai utama masjid jumlahnya sebanyak 33 anak tangga. Jumlah ini sengaja disamakan dengan sepertiga jumlah biji tasbih.
Selain menara utama, bangunan ini juga memiliki 6 menara di bagian sisi masjid. Masing-masing 4 di setiap sudut masjid setinggi 70 meter dan 2 menara di bagian pintu gerbang setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai 6 rukun iman.
Sekian ceritaku dari Samarinda. Sampai jumpa di ceritaku berikutnya.
:D
(data: dari berbagai sumber)
Terwujud juga keinginanku berkunjung ke kota Samarinda. Ibukota Kalimantan Timur yang terlintasi garis khatulistiwa itu, sejak bertahun silam ku cuma mendengar ceritanya. Kini aku benar-benar hadir dalam pelukannya.
Harapanku selalu bila diperkenankan ke Samarinda, tiga tempat yang “wajib” kukunjungi: Masjid Islamic Center, Kampung dayak yang dihuni penduduk asli borneo, sungai Mahakam yang disandari rupa-rupa kapal besar kecil, serta satu yang “sunah”: kompleks kerajaan tinggalan kasultanan di Tenggarong.
Senin, 25 Juli 2011, tiga hari terhitung sejak pesawat yang kutumpangi mendarat di bandara Sepinggan, Balikpapan, harapanku terwujud mengunjungi Masjid Islamic Center. Inilah masjid fenomenal yang menjadi salah landmark kota Samarinda itu.
Masjid Islamic Center berdiri megah di kelurahan Teluk Lerong Ulu, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, Indonesia. Masjid termegah dan terbesar kedua se-Asia Tenggara setelah Masjid Istiqlal ini berlatar depan berupa tepian sungai Mahakam—sungai terbesar di propinsi Kalimantan Timur.
Masjid ini memiliki luas bangunan utama 43.500 meter persegi. Untuk luas bangunan penunjang adalah 7.115 meter persegi dan luas lantai basement 10.235 meter persegi. Sementara lantai dasar masjid seluas 10.270 meter persegi dan lantai utama seluas 8.185 meter persegi. Sedangkan luas lantai mezanin (balkon) adalah 5.290 meter persegi.
Bangunan masjid ini memiliki sebanyak 7 menara dimana menara utama setinggi 99 meter yang bermakna asmaul husna atau nama-nama Allah yang jumlahnya 99. Menara utama itu terdiri atas bangunan 15 lantai masing-masing lantai setinggi rata-rata 6 meter. Sementara itu, anak tangga dari lantai dasar menuju lantai utama masjid jumlahnya sebanyak 33 anak tangga. Jumlah ini sengaja disamakan dengan sepertiga jumlah biji tasbih.
Selain menara utama, bangunan ini juga memiliki 6 menara di bagian sisi masjid. Masing-masing 4 di setiap sudut masjid setinggi 70 meter dan 2 menara di bagian pintu gerbang setinggi 57 meter. Enam menara ini juga bermakna sebagai 6 rukun iman.
Sekian ceritaku dari Samarinda. Sampai jumpa di ceritaku berikutnya.
:D
(data: dari berbagai sumber)
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (3)
Sering manusia mengeluh atas realitas yang tidak sesuai dengan keinginan. Padahal, di balik realitas pasti ada rencana Sang Pencipta yang seringkali manusia lupa dan tidak menyadarinya. Karena kita manusia acapkali menilai dari satu sisi saja. Sementara Tuhan menetapkan segala sesuatunya dengan segala pertimbangan Maha Detil. Melewati perhitungan matang dari berbagai dimensi.Dari sekian banyak manusia yang terlambat menemukan hikmah, saya termasuk di dalamnya. Bahkan saya sempat frustasi akibat impian yang saya pelihara siang malam harus kandas di tengah jalan.
Pertengahan tahun 2005, beberapa bulan setelah lulus sekolah, saya ditawari seorang kenalan untuk mengikuti seleksi program beasiswa oleh sebuah organisasi ternama di bidang pendidikan yang membiayai anak berprestasi namun tak punya cukup biaya. Karena kuliah merupakan salah satu mimpi saya, sementara keluarga waktu itu tak punya cukup biaya untuk menguliahkan, saya pun memberanikan diri untuk mendaftar. Meski harus saya akui, saya jauh dari kriteria remaja berprestasi. :-P
Salah satu tes awal seleksi, yaitu para peserta disuruh membuat tulisan opini dengan tema yang telah ditentukan. Berhubung saya suka mengarang, ujian itu pun tak begitu memberatkan. Saya pun lolos seleksi tanpa banyak menemui kesulitan berarti. Tentu PD dong! :-)
Namun kePDan saya sedikit menyusut, manakala saya datang ke kantor penyelenggara dan melihat daftar nama peserta yang lolos seleksi. Ternyata para peserta seleksi beasiswa begitu banyak. Saya lupa persisnya. Mungkin sekitar 500an orang. Hati saya semakin ciut saat mengetahui bahwa seluruh peserta lolos adalah siswa SMA, dan hanya saya satu-satunya siswa SMK! Lain itu, perkiraan saya mereka berangkat dari SMA favorit di masing-masing daerah asal. Karena rata-rata mereka dari SMA 1, 2, atau 3.
Namun saya benar-benar pasrah akan hal itu. Saya hanya berpikir, kalau toh saya tak lolos seleksi, itu sangat lumrah. Mengingat pesaing-pesaing saya bukan anak-anak sembarangan. Dan bila saya bisa lolos, itu semata kuasa Tuhan. Saya benar-benar rileks mengikuti setiap tes.
Di luar dugaan, ternyata saya bisa juga lulus ujian hingga tahap ke 4. Dengan kata lain, saya lolos seleksi beasiswa. Bukan main senangya. Rasa-rasanya, sebelah kaki telah menginjak tangga mimpi.
Kini hanya tinggal menentukan apakah saya lolos Seleksi Masuk Perguruan Tinggi (SPMB). Sekedar tau, program beasiswa itu hanya merekomendasikan perguruan tinggi negeri terkemuka dan jurusan dengan passing grade tinggi. Itu artinya, masih ada ujian lagi yang tak kalah sulit harus saya lewati.
Demi bisa lolos SPMB saya putuskan untuk keluar dari pekejaan, lalu ikut bimbingan belajar dengan sisa uang gaji. Saya benar-benar fokus pada impian: kuliah!
Semua berjalan lancar, hingga memasuki hari pengumuman hasil tes SPMB. Betapa kecewanya ketika saya melihat nama saya tidak tercantum di Koran sebagai peserta yang lolos SPMB. Saya benar-benar down dengan kenyataan itu. Beberapa hari berikutnya perut rasanya selalu penuh dan semua makanan terasa hambar. Saya tak tahu harus bagaimana menentukan sikap. Samasekali tak ada rencana cadangan. Dan samasekali tak pernah saya duga, saya akan gagal!
Ya Tuhan. Kenapa aku tak kau ijinkan untuk bisa kuliah di kampus itu? Bukankah niat kuliah itu terpuji? Apakah aku kurang layak untuk bisa kuliah?
Berbagai macam pertanyaan pun tumpah.
Namun ternyata tak berapa lama setelah pengumuman itu Tuhan menunjukkan rencana besarNya. Sebuah keajaiban terjadi. Saat berkunjung ke rumah seorang teman sekolah, saya diberi informasi kuliah gratis. Diploma satu. Tempatnya di blitar. Bahkan tak hanya gratis, masih ada tambahan uang saku sekian ratus ribu per bulan. Tanpa berpikir panjang, saya sambar saja kesempatan berharga itu.
Begitu lulus diploma satu, keajaiban terjadi lagi. Saya mendapat info tentang kuliah dengan harga sangat terjangkau dan masih berlokasi di Blitar. Lagi-lagi tanpa banyak buang waktu, saya pun mencari informasi, lalu mendaftar. Hingga kini.
Setelah saya renungkan, baru saya bisa menemukan hikmah atas “musibah” saat saya gagal dalam tes SPMB waktu itu. Betapa Tuhan Maha Adil, memberikan porsi yang sesuai dengan kemampuan dan minat saya. Tak terbayang bila waktu itu saya diterima di jurusan manajemen atau administrasi niaga, pilihan saya dalam tes SPMB. Betapa otak saya yang suka membelot bila berhadapan dengan angka akan terengah-engah sepanjang kuliah.
Nah kawan. Mulai sekarang hindari mengeluh atas segala realitas yang tak sesuai dengan keinginan kita. Berpikir positif lah. Berbaik sangka lah kepadaNya. Selalu yakinlah, setiap apa yang ditetapkanNya, pasti ada hikmah yang menyertainya.
Siapkan hati seluas angkasa, jernihkan pikiran menghadapi setiap kenyataan. Apapun yang menimpa, niscaya anda akan menerimanya dengan bahagia.
Salam damai.
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (5)
Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang kiat pengiriman naskah ke media massa. Yang lalu sudah dibahas teknis pengiriman via pos. Kini giliran kita bahas teknik pengiriman via email.Memang, di jaman serba internet seperti sekarang rasanya kirim mengirim naskah lebih praktis bila dilakukan lewat email. Biayanya pun lebih murah. Namun tidak semua media massa (setidaknya sampai tulisan ini diposting) menerima kiriman naskah lewat email. Maka saya merasa perlu membagi tips mengirim naskah melalui pos maupun email.
Masih dengan semangat berbagi inspirasi, berikut saya bagi kiat mengirim naskah via email. Spesial untuk anda. ;-)
Kiat untuk naskah
- Jangan “aneh-aneh“
Tulis naskah dengan format penulisan standar: Times New Roman, 12. Lalu judul buat dengan ukuran font lebih besar, 16 misalnya. Tak perlu menambah gambar atau Word Art. Supaya naskah mudah diunduh redaktur, mudah pula dibuka dan dibaca. - Agar naskah mudah dikenali
Agar naskah mudah dikenali di antara sekian banyak naskah lain, namai file sesuai dengan judul, jenis, dan nama penulis. Misal: “Perjuangan Katiyem-Cerpen-Shofa”. Itu artinya: cerpen berjudul Perjuangan Katiyem karya Shofa. Dengan begitu redaktur akan mudah mengenali: ini naskah apa, milik siapa. - Format dokumen naskah yang ideal
Setelah selesai menulis, simpan file dalam format Rict Text Format (rtf). Mengapa harus rtf? Sebab file rtf sangat fleksibel dan cenderung aman dari virus. Cara menyimpan file dalam bentuk rtf sangatlah mudah. Saat hendak menyimpan data, klik “save as”. Lalu di kotak dialog “save as” yang terbuka, cari isian “save as type”. Kemudian pilih opsi Rich Text Format (rtf). Jadi deh! :-)
Kiat mengirim naskah
- 1 file 1 naskah
Selalu ingat, setiap naskah tersimpan dalam 1 file. Misalnya: biodata sendiri, naskah sendiri. Agar redaktur tidak kerepotan harus memisah-misah naskah menjadi file yang berbeda. - Tempatkan yang penting di hanya lampiran
Tempatkan biodata dan naskah dalam lampiran (file attachment). Selain kurang aman dari virus, meletakkan naskah di badan email juga menyulitkan proses editing. Gunakan badan email hanya untuk pengantar singta mengirim naskah. Misalnya: Assalam. Wr. Wb. Yang saya hormati redaktur majalah X. Saya shofa, mengirim naskah beserta lampirannya. Semikian. Terimakasih. Wassalam. Wr. Wb. - Tulis yang sesuai di subyek email
Kolom judul email (subject email) berfungsi serupa dengan amplop pada surat. Bila dalam kiat mengirim naskah via pos telah saya sarankan untuk menulis jenis naskah pada sisi kiri-atas amplop, maka melalui email cukup dengan menulis di kolom subject email. Misal: “naskah cerpen-Perjuangan Katiyem”. Ini akan membantu redaktur untuk mengenali naskah anda sebalum melihat isinya.
Itulah kiat-kiat sederhana dalam mengirim naskah ke media massa. Cukup mudah dilakukan bukan?
Akhir kata, mari terus berkarya. Demi hidup yang lebih bermakna,.
:-)
Sumber: Nerwsletter BelajarMenulis.com karya Jonru (www.jonru.net)
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (0)
Di suatu pagi yang segar, diiringi cericit burung ditiup udara sejuk, sambil menyeruput kopi tiba-tiba pak Fulan terbelalak. Bukan karena tersedak. Matanya tak percaya membaca tulisan yang menurutnya biasa-biasa, tapi bisa tampil di harian pagi yang dipegangnya. “Kalau tau begini aku sudah bikin darti dulu-dulu”.Gambaran di atas hanyalah fiktif. Cuma karangan belaka. Namun tidak menutup kemungkinan, anda pernah mengalaminya bukan? Melihat tulisan yang dimuat di media, lalu kepingin mengirim yang serupa. Berharap dapat duit dan terkenal.
Tapi, bagaimana caranya?
Aha! Saya punya solusinya! (diucapkan sambil menunjuk ke atas dan mata mengerjab-ngerjab) :-P
Sesuai judulnya, postingan saya kali ini masih berhubungan dengan tulisan saya sebelumnya, membahas seputar: kiat teknis mengirim naskah ke media massa. Namun secara lebih khusus yang ingin saya ulas adalah teknis pengiriman via pos.
Demi mempermudah pemahaman, kiat-kiat teknis mengirim ini saya kelompokkan menjadi 3 tahapan, yaitu: sebelum , ketika, dan sesudah menulis naskah. Berikut uraiannya:
Sebelum menulis
- Mengenali segmen media
Setiap media massa punya kelompok sasaran audiens. Siapa yang hendak disasar sebagai pembaca, biasanya sudah ditetapkan sejak awal media didirikan. Sasaran audiens inilah yang juga sering disebut segmen media.
Dengan mengenal segmen media yang hendak dipilih untuk dikirimi naskah, anda akan tahu, naskah anda lebih cocok untuk pembaca yang mana. Isi naskah pun bisa menyesuaikan dengan segmen medianya. - Mengenali karakter media
Masih serupa dengan kiat nomor 1 di atas, agar naskah kita sesuai, akan lebih baik kalau kita mengetahui karakter media. Meski segmen pembacanya sama, bisa jadi karakter media tersebut berbeda.
Misal: media A dan media B menyasar konsumen yang sama, yaitu kalangan remaja. Namun media A lebih menyukai cerita tentang perjuangan, sementara media B lebih welcome dengan cerita cinta-cintaan. Ini sangat mungkin terjadi.
Lalu bagaimana cara mengetahui karakter sebuah media? Lakukan riset sederhana dengan membaca dan mengamati tulisan-tulisan yang dimuat di media tertentu. Dengan begitu anda akan mengetahui karakter media tersebut.
Ketika menulis
- Buat tulisan menarik sekilas pandang
Ada semacam pameo yang akrab dalam dunia marketing: "Sebelum konsumen tertarik dengan produk, ia harus tertarik dengan penampilan penjualnya". Nampaknya pameo itu masih relevan digunakan dalam rangka mengirim naskah ke media.
Setiap hari, seorang redaktur berhadapan dengan naskah-naskah yang terkumpul begitu banyaknya. Besar kemungkinan ia tidak akan meneliti dan membaca setiap naskah satu per satu. Iya kalau cuma satu dua naskah, kalau ratusan? Belum lagi ada deadline yang menanti mereka. Maka redaktur akan memilih tulisan yang paling menarik di antara sekian banyak naskah.
Anda tidak perlu merias naskah dengan banyak foto atau bahkan menempel hiasan kertas warna-warni demi membuat naskah terlihat menarik. Yang begitu itu bukan menarik, tapi norak. :> Tulisan menarik yang dimaksud di sini cukup dengan menulis naskah dengan rapi dan jelas.
Beberapa cara sederhana yang bisa dilakukan, misal dengan memberi garis tepi (margin) 3 cm di setiap sisi tulisan, menggunakan spasi 1,5 atau dobel spasi, dan sebagainya. Dengan begitu naskah yang anda kirim tidak kelihatan rumit dan berat. - Ikut aturan main
Setiap media massa punya aturan main tentang teknis penerimaan naskah. Aturan ini bisa tentang jumlah karakter maksimal, jenis dan ukuran kertas, atau bisa juga tentang lewat mana naskah itu harus dikirim—apakah pos, email, atau fax.
Aturan-aturan seperti itu biasanya dicantumkan dalam media massa. Anda bisa melihatnya. Kalau toh aturan-aturan seperti itu tidak dicantumkan, tak ada salahnya bertanya langsung ke redaksi. Lewat email, telepon, atau apa saja terserah. Seperti yang sudah saya lakukan dan tulis di postingan yang lalu (lihat di sini).
Amat disayangkan bila karya anda yang bagus ditolak hanya karena kepanjangan atau malah terlalu pendek. Tidak sesuai dengan aturan media yang bersangkutan. - Tak kenal maka tak sayang
Meskipun bukan yang utama dan satu-satunya, nama besar seorang penulis sering dijadikan jaminan tulisannya akan dimuat, dengan anggapan bahwa naskah yang ditulis pasti berkualitas. Tidak semua media memprioritaskan nama penulis ketimbang mutu tulisan. Maka tidak perlu khawatir tulisan anda langsung ditolak, hanya karena anda seorang pemula.
Anda bisa menjadi terkenal meski belum pernah ada tulisan anda yang dimuat. Caranya? Perkenalkan diri setiap kali mengirim naskah. Sertakan biodata diri, secukupnya saja. Sertakan pula prestasi yang pernah anda raih seputar penulisan—bila ada.
Dengan selalu memperkenalkan diri, sementara frekuensi pengiriman anda semakin tinggi, besar kemungkinan nama anda akan dikenal redaksi. Kemungkinan untuk dimuat pun semakin besar. Coba saja!
Setelah tulisan rampung dan siap kirim
- Agar amplop mudah dikenali
Dari sekian tumpuk amplop yang masuk di meja redaksi, isinya ada bermacam naskah. Biasanya, amplop-amplop itu kemudian dipilah-pilah sesuai dengan kategorinya—apakah termasuk cerpen atau opini—tanpa melihat dulu isinya.
Agar naskah anda teridentifikasi jenisnya, tulis kode yang sesuai di sisi kiri atas amplop. Misal yang anda kirim cerpen, tulis di sana: CERPEN. Dengan membantu tugas redaksi mengenali jenis tulisan, terbuka juga peluang naskah anda akan sampai di tangan redaktur yang bersangkutan. Karena biasanya setiap jenis tulisan ditangani redatur yang berbeda. - Agar naskah anda tidak terbuang percuma
Setiap penulis pasti berharap besar besar agar naskah yang dikirim selalu dimuat. Namun faktanya, tidak bisa begitu. Salah besar bila naskah yang ditolak hanya dialami para pemula. Yang senior pun juga mengalaminya.
Agar naskah "tak layak muat" tidak terbuang percuma, sertakan prangko balasan. Tujuannya, supaya naskah bisa kembali ke tangan anda, disertai alasan penolakan. Kalau alasan penolakan karena naskah tidak sesuai dengan visi-misi media, anda bisa mencobanya mengirim ulang ke media lain yang lebih sesuai. Naskah anda pun tak jadi terbuang percuma bukan?
Itulah kiat-kiat sederhana yang mungkin dianggap sepele, namun ternyata berpengaruh terhadap pemuatan.
“Sekarang kan jamannya internet. Kenapa tidak mengirim lewat internet saja?”
Aha, saya suka pembaca kritis seperti anda! :> Jangan khawatir, untuk posting berikutnya saya akan membahas teknik mengirim naskah via email untuk melengkapinya.
Semoga berguna. Selamat mencoba.
:>
Bahan tulisan dari:
- Nerwsletter BelajarMenulis.com karya Jonru (www.jonru.net)
- Buku Mengarang Itu Gampang karya Arswendo Atmowiloto. Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (5)

Dalam posting sebelumnya, sudah saya jelaskan sedikit mengenai kiat menulis posting yang menarik. Kini saya akan melanjutkan pembahasan itu.
"Lalu apa lagi kiatnya?"
Wah, anda tidak sabaran sekali ya. :-) Baiklah, beberapa kiat berikut ini bisa anda lakukan:
- Jenis, Ukuran, dan Warna Tulisan
Berikan warna berbeda pada tulisan penting dalam posting anda. Bisa merah, biru, hijau, dan sebagainya. Sesuka anda. Namun warna biru dan hijau diyakini bisa memnyejukkan mata. Jadi saya sarankan anda untuk menggunakan 2 jenis warna itu untuk menandai tulisan penting di posting anda.
Tapi jangan diwarnai semua. Ini bukan lomba mewarna (hehe,.). Hanya warnai yang penting saja. Kalau semua penting? Pilih yang paling penting di antara yang penting. Pasti ada.
Selain warna, anda bisa membuat variasi dengan memilih jenis huruf (font) atau ukurannya.
Mata manusia cenderung memperhatikan sesuatu yang menonjol dari sekitarnya. Yang beda di antara lainnya. Dengan memberikan warna, memilih jenis font yang berbeda, atau memperbesar ukurannya, diharapkan pembaca akan lebih mudah mengingat poin-poin penting yang sedang anda bahas. - Beri Nomor atau Bullet
Bila dalam postingan anda hendak menjelaskan beberapa poin penting, dan butuh penjabaran, sebaiknya anda beri penomoran atau titik poin bullet. Dengan begitu menjadi lebih jelas lagi: mana pengantar tulisan, mana isi, dan mana bagian penutup. Agar para pembaca yang tak punya banyak waktu bisa langsung menemukan "isi" tulisan anda. - Sisipan Humor
Humor bisa bikin segar. Membaca tulisan lucu membuat orang terhibur. Anda bisa menyisipkan kata-kata lucu (joke) untuk menghilangkan kesan berat pada tulisan anda.
Tulisan feature dalam Jurnalistik tak jarang juga menyisipkan humor di sela-sela tulisan. Nyatanya, feature diminati sebagai alternatif pilihan bagi pembaca yang bosan dengan berita-berita berat.
Gunakan humor seperlunya saja. Kecuali jika topik blog anda memang humor. - Gambar
Inilah satu-satunya kita mempercantik tulisan dalam bentuk non-teks. Ya, memberi gambar.
Memberikan ilustrasi berupa gambar akan mempermudah anda untuk menjelaskan gagasan. Karena itu, usahakan gambar yang ditampilkan masih relevan dengan topik yang sedang dibahas. Misal: anda sedang membahas teknik memancing yang benar. Bisa disisipkan gambar kail, joran, atau ikan.
Selain judul dan lead, gambar adalah yang paling awal dilihat pengunjung blog. Tentu gambar yang menarik—selama masih relevan—akan berpengaruh pula terhadap daya tarik tulisan.
Pemberian gambar yang menarik namun relevan bisa anda lihat dalam tulisan =>ini: (hehe,.narsis dikit).
Itulah beberapa kiat teknis yang bisa anda lakukan agar tulisan terlihat menarik.
Namun ingat, 1 hal yang paling penting di antara itu semua adalah: isi dari tulisan anda haruslah bermanfaat bagi orang lain. Se-atraktif apa pun anda mempermak tulisan, bila isinya tak memberi manfaat, ya percuma saja. Banyak orang rela mengeluarkan biaya untuk ber-internet tujuannya adalah mencari informasi. Terutama informasi yang bermanfaat. Jangan sampai anda kecewakan mereka dengan tulisan yang sama sekali tidak memberi manfaat.
Nah, barangkali anda punya kiat lain? Silakan berbagi di sini. Mari saling menginspirasi..
:-)
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (3)

Mendapat komentar yang baik tentu menjadi kebanggan tersendiri bagi seorang blogger. Itu berarti gagasan yang kita sampaikan, melalui tulisan, bisa diterima dengan baik oleh pengunjung blog. Tulisan yang menarik, meski bukan faktor satu-satunya, menjadi salah satu cara untuk meningkatkan jumlah pengunjung blog.
Berikut beberapa kiat teknis membuat tulisan menjadi menarik untuk dibaca.
- Judul
Biar pun kelihatan sepele, tulisan judul tidak bisa dianggap remeh. Kenapa? Karena judul terletak di awal tulisan. Pengunjung blog, otomatis membaca judul terlebih dulu sebelum membaca keseluruhan tulisan (posting). Ia akan membaca keseluruhan isi tulisan bila tertarik membaca judul sebuah posting. Atau sebaliknya, ogah membaca kelanjutan karena judulnya tak menggairahkan.
Anda bisa melihat-lihat blog yang judul tulisan postingnya menarik untuk dicontoh. Beberapa pilihan judul yang menarik, biasanya mengandung kontroversi. Misalnya: Mari Bertindak Tak masuk Akal. Atau anda juga bisa memilih judul How To, seperti: Kiat Mencari Inspirasi Penulisan (fiksi) ala Pengarang Kenamaan. Dan sebagainya.
Banyak blog menggunakan judul kontroversi atau judul How To terbukti banyak pula pengunjungnya. - Menggunakan Lead Sebagai Umpan
Dalam dunia jurnalistik ada istilah lead atau teras berita, yaitu paragraf pertama yang biasanya berisi ringkasan keseluruhan isi berita. Meski tidak selalu berisi ringkasan, lead harus ditulis semenarik mungkin. Ibarat sebuah toko, lead adalah etalasenya. Pengunjung akan tertarik melihat isi toko bila tertarik melihat pajangan di etalase.
Meski lead adalah ilmu menulis berita dalam jurnalistik, tak ada salahnya memakainya di dunia blogging.
Dalam menulis lead, ada peraturan: jangan menulis lebih dari 3 kalimat! Tujuannya, agar pembaca tidak bosan dengan membaca lead yang kepanjangan. Usahakan mencantumkan inti tulisan posting anda dalam paragraf pertama. Buat pembaca penasaran untuk membaca kelanjutannya.
Lead adalah umpan. Pembaca sebagai ikan. Jika tak ingin kehilangan pembaca, gunakan lead semenarik mungkin di awal tulisan anda. - Kalimat & Paragraf Pendek
Kiat ini juga berasal dari ilmu jurnalistik. Dalam jurnalistik, ada anjuran agar berita ditulis dengan kalimat-kalimat pendek (singkat). Lalu bagaimana kita tahu kalimat yang kita tulis terlalu panjang atau tidak? Mudah saja. Coba saja dibaca. Kalau dalam membaca 1 kalimat saja anda kehabisan napas, itu artinya kalimat terlalu panjang. Bila itu yang terjadi, lebih baik potong saja.
Selain kalimat, paragraf juga terlihat lebih ringan kalau ditulis pendek. Dulu sewaktu sekolah, mungkin guru Bahasa Indonesia menyarankan agar 1 ide sebaiknya ditulis dalam 1 paragraf. Akibatnya, 1 paragraf bisa sepanjang 1 halaman, bahkan lebih.
Jika ingin tulisan anda menarik dibaca, sebaiknya anda tinggalkan anjuran guru bahasa Indonesia anda dulu. Lupakan aturan:1 ide 1 paragraf. Karena aturan itu hanya akan membuat pembaca tulisan anda justru terbebani.
Bila paragraf anda terlihat panjang, potong saja! Jangan kompromi. Paragraf-paragraf pendek adalah cara untuk "mengelabuhi" mata pembaca. Agar tulisan anda tidak nampak berat. - Bahasa Komunikatif
Bahasa komunikatif maksudnya bahasa layaknya orang bercakap-cakap. Bayangkan, anda sedang ngobrol dengan orang di depan anda. Tentu anda tak perlu menggunakan bahasa baku bukan?
Ini dunia blogging, yang dalam banyak hal berbeda aturan dengan dunia nyata. Bahasa baku dan teknis lebih tepat dipakai untuk penulisan format cetak—dalam buku cetak misalnya—di mana pembaca punya banyak waktu untuk menikmati bacaannya. Seandainya tidak segera paham, mereka akan mengulangi membaca, sampai benar-benar paham dengan yang dibacanya.
Namun dalam dunia blogging, pembaca senantiasa dikejar-kejar billing. Membaca atau tidak, ada sejumlah biaya yang harus dibayar, dan ini terus bertambah. Jadi bila tulisan anda sulit dipahami, pembaca keburu lari.
Yang penting pembaca paham dengan maksud anda. Itu jauh lebih penting dari yang lain.
Masih ada beberapa kiat teknis agar tulisan posting anda lebih menarik. Namun dengan pertimbangan agar tulisan tidak terlalu panjang, sengaja tidak semua saya paparkan sekaligus.
Tapi jangan khawatir, posting lanjutan akan menyusul insyaAllah 4 hari lagi. Semoga yang sedikit ini bermanfaat.
Selamat mencoba!
:D
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (3)
Sudah agak lama sebenarnya saya ingin memposting tulisan ini. Kira-kira sejak akhir bulan Oktober lalu. Tepatnya setelah saya membaca postingan winterwing, yang berisi (menurut saya) keluhan atas tempat kuliah. Namun karena kesibukan kuliah (atau memang manajemen waktu saya yang payah? hehe), saya baru bisa memposting tulisan ini sekarang.Mengapa saya merasa perlu menaggapi postingan itu? Karena saya juga pernah mengalami hal yang serupa dengan dia di awal-awal masuk kuliah dulu. Saya, waktu itu, merasa "tersesat di tempat yang salah". Dan mengenai itu sebenarnya juga sudah saya posting di blog ini dengan judul: Sebuah Catatan. Berhubung setelah saya baca lagi tulisan saya itu rasanya kok sulit dipahami, saya pun tergerak menulis ulang tulisan yang serupa dengan itu, namun dengan bahasa yang lebih mudah dimengerti.
Pengalaman yang akan saya bagi ini merupakan sebuah ekspresi kegundahan perihal kedaan kampus yang saya ungkapkan kepada dosen melalui email. Victory nama dosen itu. Dia adalah dosen tidak tetap, yang selain mengajar di kampus saya, juga mengajar sebuah kampus terkemuka di kota M.
Sekiranya pengalaman ini terasa amat sederhana, mudah-mudahan setelah ditulis ada manfaatnya. Mengutip kalimat Trisnoyuwono dalam sebuah buku berjudul Proses Kreatif: "Anggaplah tulisan ini sebagai omong-omong antara kawan atau obrolan di waktu senggang". :>
Begini isi email saya:
Apa yang Bapak lakukan jika menjadi saya / kami yang "terpaksa" kuliah di kampus yang kurang bisa diharapkan (karena iklim belajar & sarana yang kurang memadai). Tentunya kami gak mau kelak jadi sarjana yang cuma punya ijazah. Soalnya ngeri juga kalo lihat sarjana di luar sana yang, walaupun lulusan universitas negeri, banyak yang nganggur..
Lalu, inilah jawabannya. Yang juga dikirim lewat email:
Sampe hari ini aku yakin satu hal :" Life is depend on individual achievement."
Pertama, kamu harus menghargai kesempatan yang kamu dapat sekarang, tentu saja bila dibandingkan banyak pemuda lain yang masih mabuk, teler, dan berharap hidup bisa berubah besok pagi. Sistem hanya mendukung. Kalo kamu merasa sistem kurang mendukung kamu, it's mean you have work harder to cover that weakness. Kalo saran saya, jadi pinter dulu (aja). Dengan jadi pinter, kamu akan berguna buat orang lain. Masalah jadi kaya atau tidak, itu pilihan. Hehehe,..
Kedua, apa yang kamu dapat sekarang adalah apa yang kamu tanam bertahun-tahun lalu, dan apa yang kamu peroleh besok adalah apa yang kamu mulai simpan dari sekarang. Jadi, kembangkan diri kamu semaksimal mungkin dengan inisiatif sendiri; banyak baca, lihat dan denger, lalu simpan baik-baik.
Jangan khawatir, hidup itu bukan ditentukan oleh hal-hal sederhana seperti yang kamu khawatirkan sekarang. Tapi banyak hal lain yang kelak kamu sadari jauh lebih berharga daripada sekedar bekerja dan cari duit.
……….
Intinya adalah: pilih jalan yang kamu yakini. Mau itu bisnis, belajar ketrampilan tertentu atau apapun dan jalani dengan sungguh-sungguh. Bayarannya pasti datang nanti.
Sekedar kamu tahu, sarjana-sarjana (dari kampus) negeri yang nganggur itu bukan karena sistem yang gagal menempa mereka, tapi justru mereka sendiri yang gagal memanfaatkan sistem untuk mendukung mereka.
May Allah bless you! Just believe that life is much more precious when you fight for it!
Sungguh itu merupakan sebuah motivasi berharga bagi saya. Sejak saat itu, saya lebih semangat kuliah. Tak lagi mengeluh dengan keterbatasan fasilitas kampus. Tak ada lagi pikiran bahwa saya telah salah pilih kampus. Kalau toh ada kekurangan materi yang saya terima di kampus, saya berusaha memenuhinya dengan sering-sering berkunjung ke Perpustakaan Nasional Bung Karno, yang kebetulan juga berada di kota Blitar. Dan lokasinya tak begitu jauh dari kampus.
Memang, setelah mendapat motivasi dari dosen saya itu, rasa "tersesat" saya tidaklah hilang sepenuhnya. Tapi, bila sebelumnya saya merasa tersesat di tempat yang salah, sekarang saya merasa telah tersesat di jalan yang benar, tempat yang tepat! Hehehe,.
Bagi anda yang sekarang merasa posisi anda jauh dari harapan ideal, tak usah minder dan hilang semangat. Banyak kok mereka yang tetap berprestasi meski berada di tempat yang sarat keterbatasan.
Eni Kusuma, penulis buku motivasi Anda Luar Biasa!!!, dulunya adalah seorang pembantu rumah tangga sekaligus TKI di Hongkong. Tentu bila ia hanya meratapi keadaannya di rumah majikan yang menyuruh-nyuruhnya setiap saat, takkan muncul buku ispiratif yang akhirnya menjadi best seller itu.
Andrea Hirata adalah juga lulusan Sekolah Dasar yang katanya belajar di ruangan yang lebih mirip kandang kambing daripada tempat belajar, toh akhirnya ia bisa mendapat beasiswa ke luar negri.
Jadi intinya adalah: Nyalakan semangat di hati anda, maka segala masalah takkan ada artinya lagi!!
Hmm..masihkah anda merasa "terjebak" di tempat yang salah?
:-)
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (7)
Mengenai berbagai hal baru ini, mungkin yang paling berkesan bagi kita, terutama pengalaman masa kecil, adalah baju baru. Seperti sudah menjadi budaya, bahkan sempat dibuatkan lagu segala, lebaran identik dengan baju baru. Belum sempurna rasanya berlebaran tanpa baju baru. Padahal, mengenai baju baru, sedikit pun tak pernah disinggung dalam ajaran islam. Jadi bagi anda yang tak bisa memakai baju baru di lebaran kemarin, tak perlu khawatir dan berkecil hati. Dijamin itu tidak akan mengurangi makna sejati hari Idul Fitri.:-)
Oiya, mumpung kebetulan ngomongin baju (padahal disengaja. Hehe,.), saya mau membahas sedikit tentang hubungan antara penjual baju di pasar tradisional dan teknik menjual informasi lewat internet. Lho, memangnya ada hubungannya? Tentu ada. Nah, daripada penasaran, silakan disimak uraian saya berikut.
Dulu sewaktu kecil, setiap mendekati lebaran, saya dan adik selalu diajak ibu pergi ke pasar tradisional. Betapa senangya hati saya setiap hal itu terjadi. Karena sebentar lagi saya bisa memakai baju baru untuk berlebaran. Kenapa harus membeli baju di pasar? Selain harganya bisa nego, biasanya ibu juga membeli bahan-bahan makanan untuk persiapan lebaran. Jadi sekali jalan, ada beberapa tujuan yang bisa terpenuhi. Orang sekarang bilang : efisien.
Dari “ritual” menjelang lebaran itulah saya menemukan hal menarik dan berkesan tentang pedagang pasar yang sampai sekarang masih saya ingat.
Ketika memasuki pasar, para penjual baju yang berada di samping kiri-kanan jalan selalu berlomba-lomba untuk menjaring pembeli. Mereka merayu setiap pengunjung pasar yang lewat di depan kiosnya. Tak jarang, mereka sampai menuntun pengunjung (dengan memegang tangan) untuk mampir ke kios mereka, dengan harapan si pengunjung tadi akan membeli dagangan mereka. Namun sayang, cara mereka menjaring pembeli dilakukan dengan agak memaksa.
Itulah yang membuat saya selalu ogah-ogahan bila diajak pergi ke pasar. Meski keinginan untuk memiliki baju baru begitu tinggi. Dari situ kemudian saya punya kesimpulan: meski sebenarnya si pedagang berniat baik, yaitu membantu memberi informasi kepada calon pembeli tentang barang yang dibutuhkan, namun bila cara memberi informasi itu kurang tepat, si calon pembeli justru merasa risih. Bukannya membeli, dia malah kabur melarikan diri.
Peristiwa itu ternyata juga terjadi dalam dunia Bisnis Internet.
Tentu anda pernah melihat iklan internet yang ketika anda membuka alamat situs tertentu, ada semacam banner berisi tawaran (sejenis iklan) yang menginginkan anda untuk membeli atau bergabung dengan produk yang ditawarkan. Sering penawaran itu dilakukan melalui lembaran lebar yang menutupi layar monitor dimana anda tengah asyik mencari informasi tertentu. Tentu jika anda sudah begitu akrab dengan internet, akan merasa terganggu dengan iklan seperti itu (kecuali mungkin anda masih sangat pendatang baru di dunia internet, sehingga mudah terpengaruh dengan tawarkan menggiurkan).
Dijamin, ketika menemui jenis iklan seperti itu, bukannya meng-klik dan mencari informasi lanjutan, anda justru mengklik ikon close agar tawaran iklan tersebut segera enyah dari hadapan anda. Benar begitu?
“Lalu bagaimana menawarkan produk yang baik tanpa membuat calon pembeli merasa terganggu dan jengkel?”
Nah, itu pertannyaan yang saya tunggu sedari tadi. Mohon bersabar dan terus simak tulisan saya. :-)
Anda bisa menawarkan produk informasi anda kepada pengunjung blog / website anda melalui artikel internet.
"Emang apa bedanya dengan beriklan secara langsung?"
Tentu berbeda. Bayangkan bila suatu saat anda membeli baju (ah. Lagi-lagi tentang baju..) di sebuah toko (aha, kali ini bukan di pasar!). Ketika anda dibiarkan melihat-lihat dulu, tanpa “diganggu” dengan semacam bujukan (atau paksaan?) untuk segera membeli, maka anda akan merasa lebih leluasa dalam melakukan pertimbangan. Apalagi bila si pelayan toko, ketika anda bertanya, ia akan menjelaskan plus-minus baju itu bagi anda, memberi masukan dan saran, barulah anda merasa tertolong dan benar-benar menganggap bahwa anda telah mendapat informasi.
Dalam bisnis internet, anda tak perlu beriklan secara terang-terangan dan berkali-kali menunjukkan kehebatan produk anda, dengan harapan pengunjung segera mengambil tindakan untuk membeli produk anda. Namun anda bisa menyisipkan produk anda di sela-sela tulisan bermanfaat yang sedang anda sampaikan kepada pengunjung / pembaca artikel blog anda.
Bingung? Oke ambil contoh. Misalkan anda hendak menjual informasi tentang: "Trik Jitu Berbisnis Tanpa Meninggalkan Aktifitas Utama". Atau, "Kiat Meraup Untung Dari Bisnis Internet". Atau apa lah terserah anda. Maka akan lebih baik kalau anda menulis sebuah artikel yang berhubungan dengan Bisnis Internet, lalu di sela-sela artikel, anda menyisipkan petunjuk mengenai produk anda yang masih berhubungan dengan bisnis internet. Misalnya, “Wah, kebetulan saya punya e-book yang khusus membahas secara gamblang tentang Bisnis Internet Bagi Pemula seperti anda. Informasi lengkapnya, silakan klik disini”. Itu contoh.
Tapi ingat, artikel tersebut haruslah tetap bermanfaat dan menarik bagi pembaca blog anda. Bukan semata-mata berisi bujukan dan rayuan agar pembaca segera membeli produk yang anda jual.
Dengan begitu, pembaca blog anda tidak merasa terganggu, jualan anda pun laku. :-)
Mau coba?
Oya, mumpung masih syawal, saya mengucapka mohon maaf lahir batin.
NB : artikel di atas sebenarnya merupakan pemahaman saya dari artikel milik saudara Joko Susilo dan Jonru, yang saya tulis ulang dengan bahasa saya sendiri. Sesuai dengan pemahaman saya.
Label:
berbagi inspirasi
,
bisnis internet
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (7)
Alhamdulillah..! Plong rasanya ketika naskah cerpen saya selesai, masuk amplop, dan diterima Pak Pos. Naskah itu sedianya saya kirim ke redaksi Jawa Pos. Perkara dimuat atau belum, itu urusan belakang. Saya (hampir) tak pernah memikirkannya. Yang penting ngirim.Namun setibanya di rumah, saya kepikiran juga ketika Pak Pos menerima naskah saya tadi. Bukan karena saya terpesona dengan wajah ramah Pak Tukang Pos (emangnya jeruk nyruput jeruk! Hwehehe,.). Tapi saya kepikiran, wah ternyata ongkos ngeposkan mahal juga ya. Apalagi untuk ukuran mahasiswa seperti saya. 15 ribu lo. Uang segitu bisa buat ongkos berangkat-pulang kuliah saya selama 3 hari. Itu pun kalau beli bensinnya di pom, masih ada sisa buat beli permen. Lumayan, dapat 15 biji! Dari 15 ribu itu pun belum termasuk beli amplop dan ngeprint.
Lha kalo cuma ngirim sebulan sekali sih tak terlalu masalah. Tapi kalo (misal) ngirimnya tiap minggu? Wah, bisa-bisa kuliah jalan kaki nih, karena jatah bensin cuma buat ngirim naskah. Itulah pikiran saya kemudian.
“Kenapa tidak dikirim lewat email saja? Bukankah sekarang eranya internet?!”. Nah saya dengar tadi anda bertanya begitu. Oke, terimakasih atas saran anda (Wuih, sok tau. :-p). Awalnya saya juga sempat kepikiran begitu. Namun entah kenapa_setelah tau info dari internet bahwa tidak semua media mau menerima naskah dalam bentuk email dan ada media yang sampai hari gini masih suka cara konvensional, yakni lewat pos_saya akhirnya memilih cara yang terakhir.
Nah, daripada saya bingung mikir lewat pos atau email, saya tanya langsung saja kepada media bersangkutan. Bagaimana mereka menetapkan kebijakan mengenai teknis penerimaan naskah cerpen. Berikut jawaban yang saya terima dari pertanyaan yang saya kirim lewat email.
- Suratkabar Kompas
Diketik di halaman kuarto. Spasi rangkap dengan ketentuan maksimal 12.000 karakter termasuk spasi.
Naskah bisa dikirim via pos, email, maupun fax.
Alamat pos : Jln. Palmerah Selatan, No. 26-28, Jakarta 10270.
Alamat email : opini@kompas.co.id
Fax : 5486085.
Proses seleksi naskah selama sekitar 2 minggu. Apabila dimuat, tidak ada pemberitahuan. Namun bila tidak dimuat, naskah akan dikembalikan melalui cara pengiriman. - Majalah Alia
Alia menerima naskah melalui email dengan alamat : majalah_alia@yahoo.com - Majalah Gadis
Gadis menerima kiriman naskah melalui email dengan alamat : reni.zahra@feminagroup.com. - Majalah Kartini
Panjang naskah 13.500 – 14.000 karakter. Tema cerita sesuai dengan majalah Kartini. Tidak mengandung pornografi dan SARA. Sertakan biodata ringkas, alamat, nomor telepon, serta nomor rekening.
Naskah bisa dikirim via email maupun pos.
Alamat email : redaksi_kartini@yahoo.com
Alamat pos : Jl. Garuda No. 80A, Kemayoran, Jakarta Pusat 10620.
Itulah jawaban dari beberapa media yang sempat saya kirimi pertanyaan via email tentang teknis penerimaan naskah cerpen. Saya mengirim pertanyaan kepada 7 media. Namun yang menjawab, ya cuma yang saya sebutkan di atas.
Bila ada yang tanya, kenapa tidak semua alamat media saya tulis lengkap? Memang itu saya sengaja biar lebih ringkas dan to the point. Juga kenapa ada yang saya tulis teknis penulisan cerpen secara lengkap, ada pula yang tidak? Bukan bermaksud merahasiakan dan sebagainya. Bukan. Tapi karena memang itulah jawan yang saya terima. Jadi itu pula yang saya sampaikan.
Nah, bagi anda yang suka nulis cerpen dan kebingungan mau ngirim, semoga apa yang saya sampaikan di atas bisa sedikit membantu.
Dan bagi anda yang ingin ngirim cerpen, namun alamat media yang anda maksud belum tercantum dalam ulasan di atas, saya mohon maaf. Karena masih itu yang bisa saya bagi. Saya sarankan anda bertanya langsung ke redaksi melalui telepon. Nomor telepon redaksi biasanya tertera di bagian bawah “susunan redaksi”. Dan alangkah mulianya bila anda mau membagikannya juga di sini.
Semoga terinspirasi. Selamat berkarya..
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (4)

Melanjutkan tulisan saya sebelumnya, bahwa setiap manusia (tanpa terkecuali) asal ada kemauan yang sugguh-sungguh, ia bisa meraih prestasi. Keterbatasan janganlah dijadikan penghambat untuk meraih kecermerlangan.
Saya sudah bercerita tentang Samsul Anwar yang bisa jadi pengusa tinju Asia, padahal tangan kanannya menderita kelumpuhan. Nah, kali ini saya akan bercerita lagi tentang seorang hebat lainnya. Ia juga seseorang yang dilahirkan dengan fisik tak sempurna. Namun ia bukan orang Indonesia, melainkan bangsa Jepang. Sebuah negeri yang sempat lumat digerus bom atom, tapi kini justru membombardir dunia dengan teknologinya.
Hirotada Ototake, nama orang itu. Lahir di Jepang 6 April 1976, Oto (begitu panggilan Ototake) dianugerahi fisik yang sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Ketika bayi, ia nyaris tak punya tangan dan kaki. Dalam istilah medis gejala tersebut disebut sebagai Tetramelia.
Akibat keadaan ini, dokter dan ayahnya menyembunyikan keberadaan Oto dari ibunya. Sang ayah khawatir, ibunya akan kecewa dengan keadaan fisik si jabang bayi yang kurang sempurna itu. Namun naluri kasih sayang seorang ibu tak menyurutkan niat untuk tetap melihat buah hati tercinta. Kekhawatiran sang ayah ternyata tak terbukti. Di luar dugaan, ketika dipertemukan dengan sang buah hati, tenyata justru sang ibu menerima Ototake dengan bahagia dan tulus. “Anakku, kamu sangat tampan,” itulah kata pertama yang diucapkan ibu ketika melihat anak tercintanya waktu itu.

Meski memiliki fisik tak sempurna, orang tua selalu memperlakukan Ototake seperti umumnya anak normal. Segala pekerjaan orang normal juga dikerjakan Oto (memakan dengan sendok atau garpu, menulis, menggunting kertas, juga berjalan tanpa kursi roda). Ia pun bersekolah di sekolah umum. Bukan sekolah khusus yang disediakan bagi anak cacat. Hal ini lah yang membuat Ototake tak kenal dengan kata “cacat”.
Ketika di sekolah, kedaan Oto yang berbeda dengan teman yang lain membuat Oto selalu menerima pertanyaan : “Kenapa, kenapa, kenapa?”. Namun dengan ringan Oto menjawab: “Aku sakit sewaktu masih di dalam perut ibuku. Jadi tangan dan kakiku tidak tumbuh”. Jawaban yang cukup bagi temannya. Oto pun bisa bermain bersama mereka.
Pertanyaan-pertanyaan serupa selalu diterima Oto selama 2 bulan penuh. Dan setiap itu pula Oto selalu menjawabnya tanpa beban. Hebatnya, Oto tak merasa dipandang aneh atas pertanyaan-pertanyaan itu. Dengan kursi rodanya, Oto justru merasa sebagai anak terpopuler di sekolah dan selalu dikelilingi teman-temannya. Hal ini lah yang secara perlahan menumbuhkan sifat keras hati sebagai anak tunggal dalam diri Oto.
Sewaktu TK Ototake pernah menjadi narator dalam pertunjukan sandiwara di TK Seibo. Ketika kelas 5 SD, Oto ikut kegiatan lomba lari dalam rangka memperingati Hari Olahraga. Meski dalam keikutsertaanya ini Oto menempati urutan terakhir, tetapi ada perasaan senang dari Oto. Karena ini adalah lomba lari pertamanya. Dan para penonton mendukung serta memberinya semangat.
Pada kelas 6 SD, Oto juga sempat mengikuti lomba renang yang diikuti oleh siswa dari 3 sekolah dasar. Waktu SMP Oto mendaftar di klub basket. Sewaktu SMP juga, ia terpilih sebagai ketua OSIS!
Saat SMU Oto tergabung dalam jajaran pelatih tim football Toyama Green Hornets. Bahkan mendaki gunung yang menjadi aktifitas sulit, bahkan bagi orang normal sekalipun, Oto juga melakukannya! Dan yang tak kalah mengesankan, ia sejak April 1999 bekerja sebagai co-presenter di sebuah program TV.
Terlalu panjang jika saya ceritakan kehidupan Ototake di sini. Bisa-bisa blog saya isinya kisah Ototake tok (hehehe,.). Saya sarankan, jika anda mau mengetahui biografi Ototake, silakan baca buku yang ia tulis sendiri berjudul : No One’s Perfect. Sebuah buku yang ditulis berdasar kisah nyata terbitan Elex Media Komputindo (Jakarta).
Satu hal yang menjadi kesimpulan dari cerita ini adalah : dengan kekurangsempurnaan yang ada pada dirinya, Oto tetap menegakkan kepala dan mantap menatap ke depan. Ia tak pernah meratapi apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadanya. Bahkan ikhlas dan mensyukuri hingga mampu meraih prestasi.
Oto membuat orang yang senasib dengan dia jadi bersemangat lagi. Sementara orang normal yang mengetahui kisahnya akan begumam :”WOW!”.
Semoga kisah di atas membuat kita tak mudah mengeluh dengan keadaan kita saat ini. Karena sebenarnya, impian bisa diraih, siapa pun orangnya!
Jadilah juara!
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (6)
“Tak ada siswa bodoh. Semua pintar. Yang membedakan adalah rajin belajar dan malas belajar,” begitulah kata Drs. Sugiyadi dalam sambutannya di kesempatan upacara bendera, sekitar tahun 2002.Saya ingat betul kata-kata itu, meski itu terjadi 8 tahun lalu. Karena saya merupakan satu dari sekian ratus peserta upacara waktu itu. Dan Pak Sugiyadi, begitu murid-murid memanggilnya, adalah guru saya sewaktu STM.
Kenapa saya ingat benar kata-kata itu? Karena mungkin, saya termasuk yang tersindir dengan kata “bodoh” yang beliau ucapkan. Hehehe,..
Sampai sekarang, saya masih pegang kata-kata itu sebagai motovasi hidup saya. Meski saya sudah bukan anak STM lagi. Kenapa? Karena menurut saya, kata-kata itu selalu pas digunakan dalam menjalani kehidupan. Bila dirubah sedikit saja beberapa katanya. Misal : “Tak ada manusia yang diciptakan untuk gagal. Semua bisa berhasil. Yang membedakan (antara gagal dan berhasil) hanyalah tekun berusaha dan malas berusaha”
Memang benar, kesuksesan seseorang bukanlah ditentukan bakat semata. Melainkan usaha tak kenal lelah dari manusia itu sendiri untuk meraih prestasi. Meski punya bakat bagus, tanpa dilatih serius, ya percuma saja. Prestasi akan sulit dicapai (bila tak mau dikatakan mustahil). Sebaliknya, yang tanpa bakat pun, bila mau berusaha keras, sebuah prestasi gemilang hanyalah tinggal menunggu waktu.
“Memangnya ada orang seperti itu?”. Itu kah pertanyaan anda? Saya jawab : ”Tentu saja ada”. Baik saya kasih contoh.
Adalah Samsul Anwar Harahap, seorang atlet tinju Indonesia yang mengharumkan nama bangsa dekade 70an. Mungkin di kalangan remaja sekarang, hanya sedikit yang tahu, prestasinya begitu cemerlang di bidang tinju. Namun barangkali akan lebih sedikit lagi yang tahu, bahwa di balik prestasi yang gemilang itu, ia memiliki keterbatasan fisik. Yakni lumpuh tangan kanan. Karena kedengaran memang tak masuk akal.
Ijinkan saya cerita sedikit mengenai mantan petinju legendaris ini.
Samsul Anwar lahir dalam keadaan fisik yang normal di Pematang Siantar, tahun 1952. Ketika usianya menginjak 2 tahun, ia jatuh sakit akut selama sekitar setengah tahun. Ketika sembuh, ayah-ibunya baru sadar bahwa anaknya menderita lumpuh, saat melihat Samsul kecil tangan kanannya tak bergerak ketika ia berlari.
Beberapa usaha mengembalikan tangannya ke kondisi normal telah dilakukan. Termasuk “menyetrumnya”. Namun terapi dihentikan karena tak nampak hasil yang signifikan. Waktu berlalu, hingga Samsul tumbuh sebagai anak yang apatis menghadapi masa depan, karena mendapat olok-olok dari teman akibat tangan kanannya yang lumpuh.
Namun suatu hari, Nauli Siregar (ibunya) membesarkan hatinya melalui kisah seorang cacat yang sukses menjadi atlet. Wilma Rudolf nama atlet itu. Seorang pelari Amerika Serikat yang merebut medali emas lari 100 meter putri pada Olimpiade Roma (1960). Wilma kala itu begitu dielu-elukan warga Amerika. Karena ia bukan hanya berhasil menjadi pelari tercepat dunia saat itu, tapi Wilma sempat menderita lumpuh kaki kanan akibat polio, semasa kecilnya.
Cerita itulah yang terus terngiang di kemudian hari dalam perjalanan hidup Samsul. Ia selalu bertekad, Wilma yang perempuan saja bisa, ia yang laki-laki juga pasti bisa. Karena tekad dan disertai latihan rutin secara spartan, Olahragawan Terbaik Nasional 1976 versi Wartawan Olahraga ini mulai membuktikan tajinya di bidang tinju.
Prestasi perdananya adalah juara pertama dalam turnamen yang diselenggarakan Pertina (Persatuan Tinju Amatir Indonesia) tahun 1969. Ketika ia masih berseragam abu-abu putih, alias SMA. Lalu berlanjut ke tingkat nasional dengan meraih medali perunggu pada Kejuaraan Tinju Nasional (1971). Dan prestasi internasionalnya yang pertama adalah mendapat medali emas dalam kejuaraan Pesta Sukan di Singapura. Hingga menjadi juara Asia setelah merebut emas dalam SEA Games 1977 di Kuala Lumpur.
Akan terlalu panjang jika saya harus menulis beberapa prestasi yang berhasil ia dapatkan selama karirnya di dunia tinju. Namun satu yang menjadi kesimpulan, bahwa juara sejati bukan berasal dari bakat. Melainkan usaha tak kenal batas menyerah. Siapa pun orangnya, meski ia merasa tak punya bakat, bila serius dalam berusaha, prestasi pun bisa diraih. Samsul Anwar Harahap telah membuktikannya.
Anda tak perlu menjadi petinju setelah membaca tulisan ini (hehe..). Tapi, apa pun bidang yang ingin anda pilih, asal ditekuni, anda pun bisa meraih prestasi!
Semoga terinspirasi.
:>
Sumber : Bukuku Kakiku. Prakata : Jakob Utama, Pengantar : Fuad Hasan.
Diposting oleh
shofa firdaus
komentar (10)

Anda mungkin merasa kagum kepada beberapa penulis fiksi yang terkenal karena begitu produktif menghasilkan karya. Kelihatannya, mereka begitu enteng menelorkan karya baru dalam waktu yang relatif singkat. Sementara Anda, jangankan produktif, satu karya pun belum juga tercipta.
“Apa sih yang mereka lakukan untuk mencari sebuah inspirasi cerita?”
Pasti itu yang Anda tanyakan! Wah, berarti klop sekali dengan yang akan saya bahas selanjutnya. (Hehe,.Saya sok tahu ya?!)
Baiklah, langsung saja ke inti bahasan. Apa yang akan saya bagikan di sini merupakan pengalaman beberapa pengarang dalam mencari ide penulisan. Siapa tahu Anda berminat, lalu tergugah untuk mempraktekkannya. Kalau pun tidak, sekurang-kurangnya Anda akan tahu bagaimana mereka mencari inspirasi. Apa yang mereka lakukan agar muncul letupan ilham penulisan.
- Melakukan Perjalanan
Dalam melakukan sebuah perjalanan, sering seorang pengarang mengalami peristiwa, atau hanya melihatnya saja, yang kemudian menginspirasinya untuk menulis cerita. Walau itu cuma terjadi sekilas, sepintas lalu.
Cara ini lah yang menjadi favorit Arswendo Atmowiloto, penulis buku Mengarang itu Gampang, dalam mencari benih ilham tulisan-tulisannya. Saking gemarnya melakukan perjalanan, ia merasa tidak betah untuk berada di belakang meja selama dua bulan.
Ernest Hemingway, sastrawan negeri Paman Sam, punya cara lebih ekstrem lagi demi mendapat ilham. Ia nekad berlayar sendirian, hingga terciptalah karya fenomenalnya, The Old Man and the Sea.
Bagi Anda yang suka jalan-jalan, tak ada salahnya cara ini anda coba. - Membaca
“Membaca dan menulis adalah dua aktifitas intelektual yang saling melengkapi,”begitu kata Hernowo, seorang penulis sekaligus editor. Saya setuju sekali dengan pedapat itu. Bacaan, menurut saya, seumpama amunisi untuk mengisi senapan penulis, yang berwujud pena. Semakin banyak membaca, senapan seorang penulis akan semakin terisi oleh amunisi yang siap untuk diletuskan menjadi tulisan. Tinggal dar-dor-dar-dor saja. Ibaratnya seperti itu.
Beberapa pengarang juga melakukan hal ini. Bahkan mereka dengan terang mengakui telah “mencuri” sebagian kata / kalimat dari karangan milik orang lain.
Fyodor Dostoyevski dalam Notes From Underground pernah menulis, “Andaikan aku seekor serangga”. Sementara pengarang lain, Franz Kafka terinspirasi oleh kalimat itu dan menulislah cerita berjudul The Metamorphosis, yang di dalamnya ada kalimat: ”Pada suatu pagi, saat Gregor Samsa terbangun dari mimpi buruknya, dirinya telah berubah menjadi seekor serangga besar di tempat tidurnya.”
Saya sendiri pernah terinspirasi oleh sebuah cerita dari kisah di sebuah buku bernuansa religius, dan menulis sebuah cerpen.
Banyak juga pengarang yang “menata-ulang” sejarah dalam karya fiksinya. Lho kok? Jangan lho. Tentu yang dimaksud di sini tidak mengubah peristiwa. Melainkan membuat peristiwa sejarah menjadi lebih colourful dengan mengungkapkan setiap detailnya. Bingung?
Lebih jelasnya begini. Misalkan Anda mau menulis cerita fiksi yang berlatar pembacaan teks proklamasi kemerdekaan RI. Anda memasukkan seorang tokoh, bocah gundul yang megap-megap karena lehernya terjepit di antara lengan orang dewasa gara-gara kepingin melihat Bung Karno dari jarak dekat. Itu boleh. Tapi akan lain urusannya bila Anda, misal, menulis bahwa teks proklamasi sebenarnya yang membaca adalah Bung Hatta dan dibaca tanggal 12 Desember 1945. Itu ngawur namanya.
Bagi Anda yang kutu buku, cara ini mungkin pas buat Anda. - Ngobrol dengan Orang Lain
Nah, ini berita gembira bagi Anda yang punya budaya lisan sangat kuat, dengan kata lain suka ngobrol. Juga Anda yang suka nongkrong. Karena dari obolan-obrolan yang Anda lakukan, itu bisa menjadi sumber ide penulisan.
Mulai sekarang, coba simak baik-baik ketika teman Anda sedang “mendongeng”. Siapa tahu ada konflik dari apa yang ia ceritakan dan bisa digarap menjadi sebuah cerita fiksi.
Tapi saya sarankan, frekuensi menulis Anda harus lebih banyak dari nongkrong. Jika tidak, salah-salah Anda malah jadi ahli nongkrong. Bukan ahli mengarang. - Pengalaman Sehari-hari
Kehidupan nyata sehari-hari seorang pengarang sering mewarnai cerita yang mereka ciptakan. Karena memang, mereka mendapat inspirasi dari kehidupan mereka sendiri.
Ambil contoh. Beberapa tulisan cerita mengenai pengalaman dokter tercipta dari tangan Marga T. dan Mira W. yang memang berprofesi sebagai dokter. Juga Ashadi Siregar yang tulisannya berkutat mengenai dunia kampus, di mana ia sendiri memang seorang dosen.
Silakan merekayasa pengalaman Anda sehari-hari menjadi cerita fiksi. Siapa tahu, kelak akan muncul karya hebat yang menyangkut pautkan makanan di setiap karyanya. Ini jika (misalkan) Anda, si penulisnya, adalah anak tukang warung. Bisa saja to. - Menggali dari Kisah Masa Kecil
Tentu Anda sudah tak asing lagi dengan nama Andrea Hirata yang sukses dengan tetralogi Laskar Pelangi-nya itu. Di novelnya yang pertama, Andrea begitu lincah menceritakan para tokoh yang unik. Itu karena memang yang ia ceritakan adalah sahabat-sabatnya sendiri di masa kecil.
Pengarang luar negeri yang terinspirasi oleh pengalaman masa kecil adalah Leo Tolstoy yang tenar di usia dua puluh dua saat menulis triloginya, Childhood, Boyhood, Youth. Juga Mark Twain yang menggunakan pengalaman masa kecilnya sebagai bahan menulis Huckleberry Finn.
Jika Crisye pernah menyenandungkan, “Masa-masa paling indah…Masa-masa di sekolah…”. Benar kiranya. Tapi saya ingin menambahi, bahwa masa-masa paling mengesankan (baca : tak terlupakan) adalah masa kecil kita.
Bagaimana dengan masa kecil Anda? - Melamun
Ternyata bagi seorang pengarang, melamun juga ada manfaatnya lo. Ya, apalagi kalau bukan untuk mencari inspirasi. Karena memang, aktifitas melamun berhubungan erat dengan berkhayal yang bermuara pada berimajinasi *alah*.
Kenyataanya, ada juga pengarang yang menggunakan teknik melamun ini ketika hendak menulis cerita. Adalah Ali Akbar Navis atau yang lebih akrab dengan A. A Navis, penulis cerpen Robohnya Surau Kami, sering dapat ilham penulisan ketika jongkok di kakus. Jangan tertawa! Ini dia sendiri yang ngaku. - Tidur dan Bermimpi
Nah, ini dia berita gembira lagi bagi Anda yang gemar molor. Ternyata ada pengarang yang menjadikan mimpi sebagai ilham penulisan. Walau pun sangat mungkin ia tak hobi tidur.
Robin Hemley, pengarang The Last Studebaker dan All You Can eat, mengakui bahwa sumber ceritanya adalah mimpi-mipinya.
Jika Anda mau menuliskan mimpi-mimpi Anda menjadi cerita fiksi, tentu hobi Anda akan lebih berguna bukan? Dan pastinya jauh lebih bermartabat serta halal daripada Anda meramal mimpi Anda, lalu pasang nomer togel. Hehe,..
Itulah beberapa cara para pengarang dalam mencari inspirasi karangan mereka. Sekali lagi saya ulangi kalau cocok, silakan pilih dan mencobanya. Kenapa saya bilang kalau cocok? Karena resep yang sama belum tentu ces pleng untuk pasien yang berbeda. Artinya, pengalaman seseorang belum tentu pas dijalani oleh orang lain. Tapi setidaknya, dari pengalaman orang lain yang mencerahkan, semoga bisa menumbuhkan semangat menulis Anda.
Dan yang tak kalah penting, Anda harus menyiapkan batin Anda untuk setiap saat menerima inspirasi. Ibaratkan batin kita sebagai antena. Sementara inspirasi, berupa sinyal yang terus memancar (tanpa henti), di mana pun tempatnya. Jika antena kita sudah siap menerima sinyal, maka apa apa pun cara yang Anda gunakan (bisa jongkok, tengkurap, kungkir balik, terserah!) sinyal akan mudah ditangkap. Sekecil apa pun itu.
Jika inspirasi sudah dalam genggaman, Anda tinggal memolesnya saja menjadi tulisan.
Nah, semoga yang sedikit ini bisa bermanfaat.
Selamat mengarang.





