Mari Bertindak Tak Masuk Akal! (Bagian. 2)

Dalam postingan sebelumnya, saya telah mengajak anda untuk berbuat tak masuk akal. Dalam arti, jangan ragu melakukan sebuah perbuatan yang mengandung kebenaran (truth), walaupun terkesan “menyimpang” dari kebiasaan orang kebanyakan. Anda boleh punya mimpi apa saja. Walau saat ini anda seolah tak punya “modal” untuk mewujudkan mimpi anda tersebut.

Asalkan anda yakin sepenuh hati, maka sebuah mimpi yang tak bisa dinalar pun bisa terjadi. Sudah banyak buktinya. Anda bisa mencari sendiri contoh nyata di lingkungan tempat tinggal anda sendiri.

Oke, saya lanjutkan pembahasan tentang tindakan yang tak masuk akal, tapi baik. Kali ini saya ingin membahas mengenai , lagi-lagi, perbuatan tak masuk akal versi lain. Dan ketidakmasukakalan yang akan saya bahas ini bahkan bisa menghasilkan uang! Ah, yang benar saja?! Tentu saja.

Nah, sekarang saya tanya : Apa yang ada di pikiran anda perbuat ketika mendengar kata sampah? Saya yakin, pasti anda akan berpikir bahwa sampah harus dibuang, kalau perlu dibakar, sebagai kotoran yang harus dilenyapkan. Singkatnya, sampah adalah masalah.

Tapi tidak bagi Kasmi (52), ibu rumahtangga asal Ciputat, Tangerang, Banten yang justru menganggap sampah sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Dari sampah plastik bekas bungkus kopi dan pengharum pakaian, ia mampu merintis usaha kerajinan tas beromzet sekitar 20 sampai 40 juta per bulan. Dengan konsumen hingga Dubai, Singapura, Australia, dan Amerika Serikat (Kompas, 25 Januari 2009). Sekarang anda percaya kan, bahwa tindakan “tak masuk akal” bisa menghasilkan uang?

Nah, inilah yang saya maksud dengan tindakan tak masuk akal versi lain. Yaitu tentang kreatifitas. Ada lagi contohnya.

Ketika manusia jaman dulu masih mencatat dengan getah tumbuh-tumbuhan, mereka terpikir untuk alat tulis yang lebih praktis. Maka dibuatlah pensil dan pena. Ketika orang ingin menulis lebih banyak dengan tulisan yang tetap rapi, terciptalah mesin ketik. Tapi ternyata, penulis yang menggunakan mesin ketik akan menemui kendala bila sering melakukan kesalahan dalam menulis. Maka terpikirkan untuk menciptakan mesin ketik yang bisa menghapus tulisan tanpa mengotori. Jadilah mesin ketik elektronik alias komputer. Ketika aktifitas manusia semakin mobile, komputer dirasa tak lagi support dengan kegiatan mereka. Karena tak bisa dibawa kemana-mana. Maka muncul inovasi berupa komputer jinjing alias laptop yang fleksibel dibawa kemana-mana. Waktu berlalu, laptop pun masih dirasa kurang praktis karena berbentuk kotak lebar. Manusia kreatif tak juga puas dengan komputer yang bisa dilipat. Saat ini tengah dikembangkan laptop yang bisa digulung bernama Rolltop yang semakin ringkas dan ringan. Bahkan ketika digulung, Rolltop tampak seperti botol minum. Bukan mustahil kelak akan muncul komputer yang bisa dilipat hingga bisa nyemplung di saku. Tak masuk akal memang. Tapi nyatanya ide kreatif yang awalnya terkesan tak masuk akal itu bisa diwujudkan juga. Itulah hebatnya kreatifitas yang dimiliki orang-orang kreatif.

Manusia kreatif selalu punya inovasi, berani mengambil resiko, serta menyikapi lingkungan dengan sudut pandang yang "berbeda". Pikiran mereka tidak terbelenggu oleh kebiasaan-kebiasaan yang konsisten.

Anda tak perlu berpikir ngotot untuk membuat suatu barang yang hebat dan canggih agar bisa dikatakan kreatif. Kreatif bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara sederhana. Misal : anda bisa membuat tempat pensil dari bekas kaleng susu, menyulap batok kelapa sebagai asbak, atau mengumpulkan kertas bekas fotocopyan sebagai buku catatan kuliah (seperti yang saya lakukan. hehehe,..).

Berikut adalah beberapa sifat / kebiasaan yang dilakukan orang-orang kreatif:
1. Jangan mudah puas dengan kebiasaan yang sudah berlaku umum.
Seringkali manusia kreatif justru merasa tak nyaman dengan keteraturan kebiasaan yang berulang secara konsisten. Mereka akan menganggap itu sebagai sebuah rutinitas monoton yang membosankan. Lalu menggantinya dengan cara baru yang dianggap lebih efektif dan menantang, walau tindakan itu dianggap tidak pada umumnya.
Ambil contoh. Jika anda seorang pendidik (guru), tak ada salahnya “melawan” pakem yang sudah dilakukan umumnya guru di manapun tempatnya, secara turun temurun, yaitu : Guru menerangkan, murid diterangkan. Cobalah sekali waktu memberi kesempatan kepada murid-murid anda untuk menerangkan di depan kelas, sementara anda ikut bergabung dengan murid lain yang diterangkan. Lakukan diskusi, jangan anda terus yang memonopoli.
Metode ini sudah jamak diterapkan di bangku perkuliahan. Hasilnya? Banyak tumbuh mahasiswa kritis dan aktif. Tak ada salahnya metode ini dirapkan di bangku sekolah, dengan beberapa penyesuaian.

2. Berani melawan arus.
Sudah menjadi hal yang lumrah, bila suatu ketika anda mendapat cibiran dari banyak orang karena anda bertindak tidak biasa. Dianggap berperilaku menyimpang.
Ambil contoh. Bila anda seorang pelajar atau mahasiswa, tugas utama anda adalah belajar. Kebanyakan mereka akan belajar habis-habisan sampai larut malam saat musim ujian tiba. Sebaliknya, mereka akan santai menikmati hidup ketika dirasa ujian masih jauh datangnya.
Sekarang cobalah anda belajar setiap hari. Tak usah ngoyo, tapi lakukan secara trep. Tindakan ini “beresiko”. Anda bisa dikatakan senewen belajar dan kuper oleh teman-teman anda. Tak masalah. Ketika ujian tiba, buka buku sekedarnya saja. Sekedar mengingat apa yang anda pelajari setiap hari.
Kalau mau lebih ekstrem, anda bisa jualan alat tulis sesaat sebelum jam ujian dimulai. Seringkali para peserta ujian yang tegang semalaman justru kelupaan bawa alat tulis. Bukankan ini peluang bagus? Apalagi di saat istirahat anda bisa berjualan jajanan keliling ke kelas-kelas. Peserta ujian yang merasa waktunya eman terbuang, akan menggunakan waktunya untuk belajar. Sehingga mereka akan malas hanya untuk sekedar njajan ke kantin. Mereka pasti akan merasa terbantu dengan jajanan “siap antar” dari anda. Anda untung, mereka pun senang karena terbantu. :>

3. Suka “mengkhayal”, lalu mengaplikasinya dengan sebuah action.
Orang kreatif juga seorang pengkhayal. Tapi tidak sebatas khayalan kosong, mereka merealisasikannya menjadi sebuah kenyataan. Penulis novel maupun cerpen sering mengumbar imajinasi sebagai bahan dasar karya mereka. Hingga lahir karya luar biasa. Juga seorang pelukis yang menuangkan imajinasinya ke dalam kanvas. Dan masih banyak lagi profesi menggunakan khayalan sebagai modal utamanya.

Setiap orang dibekali insting kreatifitas sejak dari sononya, termasuk anda. Anda cuma tinggal mempraktekkannya saja. Keputusan ada di tangan anda.

Selamat mencoba dan selamat datang di dunia kreatifitas! ;-D

Mari Bertindak Tak Masuk Akal! (Bagian. 1)

“Teman-teman, ada seorang yang bisa makan sepeda sampai habis. Itu dilakukannya karena ia begitu semangat, agar namanya bisa tercatat di buku rekor dunia,” begitu kata Mas Gigih, dosen saya, dengan penuh semangat. Suatu hari ketika memulai sesi kuliah kami. “Ah, yang benar saja..Tak masuk akal!” batinku, tapi toh tetap takjub juga dengan cerita dosen saya itu. Seolah mengerti keraguanku, Mas Gigih pun segera menambahkan, “Kalau tak percaya, silakan cari di internet”.

Beberapa hari kemudian, saya buktikan ucapan “tak masuk akal” dosen saya itu. Ternyata benar! Orang yang makan sepeda itu benar-benar ada! Namanya Michel Lotito. Ia berasal dari Prancis. Ia juga dikenal sebagai Monsieur Mangetout (Tuan makan segalanya). Karena tidak hanya sepeda, tapi ia juga sanggup makan televisi, bahkan pesawat Cessna 150. Gila! Sungguh ketidakmasukakalan yang nyata terjadi.

Kawan, banyak peristiwa tak masuk akal yang terjadi di dunia ini. Sayangnya, sejak kecil saya (mungkin juga anda) selalu dibiasakan dengan segala hal yang harus bersifat logis, masuk akal. Seperti, “Orang ganteng, jodohnya cantik”, “Anak yang selalu juara 1 di klas, pasti hidupnya kelak akan sukses. Bergelimang kebahagiaan. Sementara yang biasa-biasa saja, atau bahkan bodoh dalam pelajaran, kelak hidupnya akan dibelit kesusahan”, dan seterusnya. Pemahaman-pemahaman seperti itulah yang akhirnya tertanam di alam bawah sadar hingga membuat kita selalu bertindak penuh keraguan. Cari aman saja dengan melakukan tidakan yang umumnya dilakukan banyak orang. Karena kalau bertindak di luar kebiasaan orang pada umumnya, akan dianggap tidak wajar. Tak peduli walau yang kita lakukan merupakan suatu kebenaran (truth). Apesnya, istilah wajar yang diamini banyak orang belum tentu merupakan sebuah kebenaran (truth), meski itu benar (true). Tapi yang pasti semua orang setuju, karena memang seperti itulah yang umumnya terjadi. Singkatnya, yang berlaku umum di masyarakat itulah yang sering dianggap benar selama ini. Bingung? Nikmati saja. Itu artinya otak anda masih berfungsi normal. Hehe,.

Contoh kongkritnya seperti ini. Saya ingat sekali tentang realitas kewajaran yang begitu kuat tertanam dalam benak masa kecil saya dulu. Akibatnya, begitu menginjak SD saya tak berani lagi bercita-cita. Seolah cita-cita saya nyangkut di bangku Taman Kanak-kanak. Kenapa bisa begitu? Karena sejak saya bisa berhitung, saya pun mulai dibiasakan berspekulasi tentang betapa cita-cita juga butuh biaya. Bukan asal nyeplos sekenanya tentang profesi keren yang selalu nampak basah digenangi duit melimpah. Kalo sudah nyrempet-nyrempet masalah biaya, secara otomatis program dalam tubuh saya bunyi : “Saya tak mungkin bisa kuliah. Biayanya mahal. Uang dari mana?”. Begitulah bunyi sebuah program otomatis akibat efek terlalu berfungsinya logika. Saya anak seorang petani, maka sudah sewajarnya kalau kelak saya pun harus jadi petani. Begitulah logikanya.

Saya sering iri melihat teman saya yang ibu-bapaknya seorang PNS. Ia selalu punya rencana jangka panjang dan terstruktur mengenai pendidikannya. Bisa milih semaunya kepingin sekolah di mana. Hebatnya, rencana-rencana itu telah ia persiapkan sejak SD : Ia akan sekolah di SMP berapa, SMU mana, kuliah di mana-jurusan apa, semua sudah jelas. Ibarat seorang pengembara yang sudah punya data lengkap tentang tempat yang dituju, berikut peta daerah tujuan. Otaknya seperti telah sengaja diset-up sejak dini tentang masa depan. Karena sekali lagi, bapak-ibunya seorang PNS. Perihal biaya kuliah tak begitu jadi beban baginya.

Sementara saya, cuma punya gambaran (bukan sencana) paling banter sekolah sampai setingkat SLTA. Kenapa? Lagi-lagi masalah biaya. Dan lagi, sesuai dengan yang sering ditanamkan di alam bawah sadar saya, “Apapun sekolah saya nanti, ujung-ujungnya pasti jadi petani”. Maka lebih baik sesegera mungkin saya lempar jauh-jauh keinginan saya untuk kuliah. Sebuah keinginan yang terlalu lux, tak masuk akal. Itu yang bikin saya “iri” dari teman saya yang anak pegawai negri.

Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain. Jalan hidup saya, sampai saat ini, kalau dipikir-pikir sangat tak masuk akal. Tapi toh terjadi juga. Saya, yang cuma anak petani ini, yang awalnya tak punya gambaran untuk kuliah, justru dapat kesempatan kuliah 2 (dua) kali. Dua-duanya gratis SPP. Malah yang satu, sudah gratis, saya masih dijatah uang setiap bulan dari kampus. Sebuah kesempatan emas dan langka, jauh lebih mudah menemui tanggal 29 februari. Oh, betapa beruntungnya aku ini. It’s amazing for me! Lho, kok jadi curhat? Lalu apa hubungannya dengan judul tulisan saya? Haha,.

Itulah kawan. Di dunia ini banyak hal terjadi tak sejalan dengan logika. Anda tentu pernah melihat, orang yang sulit dikatakan rupawan tapi punya pasangan yang rupawati. Dua lagi! Sungguh tak tau diri. Hehe,. (yang merasa jangan tersinggung ya..).

Ada pula orang yang cacat fatal (nyaris tanpa tangan&kaki) tapi kehidupannya diliputi semangat & kebahagiaan. Hidupnya banyak menginspirasi orang normal. Dan tak sedikit yang bilang, ia adalah contoh orang sukses yang sebenarnya. Sebaliknya, banyak orang yang normal fisiknya, tapi “tak bisa apa-apa”. Nyala semangatnya telah padam, bahkan ketika jasadnya masih hidup. Jangankan mengurusi orang lain, mengurus dirinya sendiri saja tak becus. Bukankah ini tak masuk akal?!

Maka itulah kawan. Begitu anda selesai membaca tulisan saya ini, jangan takut untuk berpendirian dan bertindak yang tak masuk akal. Jika anda yakin itu sebuah kebenaran&tidak merugikan orang lain, lakukan saja. Ketika ada orang dengan cara berpikir “pada umumnya” mengkritik anda, jangan ditanggapi serius. Jangan pula semangat anda jadi kendur hanya karena caci maki penonton. Teruskan saja lah.

Buktikan, bahwa anda telah berada di jalan yang tepat. Walau itu kelihatan tak masuk akal bagi kebanyakan orang. Yakinlah, setiap apa yang anda impikan bisa diwujudkan. Karena tak ada yang tak mungkin bagi Tuhan. Dan tak satu pun makhluk bisa menghalangi kehendakNya.

“…apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata padanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (Al-Quran).


Nah, bagaimana menurut anda? Adakah kejadian tak masuk akal dalam hidup anda? Mari saling berbagi inspirasi di sini. Saya tunggu cerita anda.

Kalau Mau Sukses, Libatkan Hati Anda Dalam Bekerja


"Jadi sukses itu mudah. Tak sesulit yang pernah anda pikirkan. Tapi dengan syarat, anda harus rela mengijinkan kesuksesan menghampiri anda“.

Begitulah salah satu point yang saya tangkap dari pemikiran Erbe Sentanu dalam bukunya : Quantum Ikhlas. Sukses ataupun gagal, bukan semata ditentukan oleh usaha manusia, apalagi kehendak takdir. Itu kurang tepat! Kesuksesan adalah pilihan manusia itu sendiri. Apakah ia rela untuk benar-benar sukses, atau ia malah ragu dan eggan kesuksesan menghampirinya. Anda bingung? Awalnya saya juga begitu. Oke, mari kita gunakan contoh saja. Biar lebih mudah dipahami.

Pernahkah anda melihat orang yang kaya-nya sampai naudzubillah? Orang yang terlihat semakin hari semakin bertambah kekayaannya. Umumnya, orang-orang seperti mereka itu suatu ketika pasti pernah mengalami kegagalan dalam usaha. Namun mereka berhasil bangkit dan kembali meraih kekayaan mereka lagi. Sepertinya, keberuntungan tak mau jauh-jauh dari orang kaya.

Lalu sebaliknya, pernahkah anda melihat seorang yang dari dulu hidupnya seperti tak pernah lepas dari kemlaratan? Kelihatannya, dari dulu tak pernah ada peningkatan. Padahal, ia nampak bekerja sangat keras. Tapi seolah-olah, ia sudah di-plot Tuhan sebagai hambaNya yang miskin. Benarkah itu semua terjadi semata karena takdir?

Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Takdir, jika itu memang sudah terjadi. Tapi itu juga bukan semata kehendak takdir, karena_kalau mau_itu bisa dirubah.

Quantum Ikhlas menjelaskan, bahwa pikiran dan (terutama) perasaan manusia secara kuat dan otomatis, menarik segala bentuk energi yang ada di alam semesta. Seperti magnet. Bedanya, kalau magnet menarik yang berlawanan kutub, pikiran dan perasaan menarik energi yang sejenis. Positif menarik positif, negatif menarik negatif. Sekali lagi, semua itu terjadi secara otomatis! Suka tidak suka. Inilah yang kemudian disebut sebagai Hukum Tarik-Menarik yang berlaku di alam.

Dari sini bisa dipahami mengenai istilah :"Orang kaya semakin kaya. Orang miskin semakin miskin”.

“Orang kaya semakin kaya”, karena pikiran mereka selalu dipenuhi oleh semua kekayaan yang mereka miliki. Apalagi jika hatinya pandai bersyukur, maka kekayaan akan semakin deras mengerubunginya. Otomatis.

Demikian juga dengan fenomena, “Orang miskin yang semakin miskin”. Semakin keras ia bekerja, tapi jika pikirannya selalu penuh dengan segala hal yang tidak ia punyai, maka semakin miskin lah yang ia dapatkan. Terlebih bila perasaannya selalu diliputi keluhan dan Ia begitu rajin menkomplain Tuhan. Sesuai hukum Tarik Menarik, maka kemiskinan lah yang semakin erat mengakrabinya. Karena energi dari pikiran dan perasaan yang ia lepaskan ke alam berupa energi negatif. Sebab Tuhan lebih mengabulkan apa yang dipikirkan dan dirasakan seseorang, bukan yang ia ucapkan atau kerjakan.

Ingat, Hukum Tarik Menarik terjadi secara otomatis. Alam tak kan pernah menanyai anda terlebih dulu, apakah anda suka dengan yang akan menimpa anda. Tapi alam memberi apa yang anda minta melalui pikiran dan (terutama) perasaan anda. Seperti kerja gravitasi. Ketika anda melepaskan gelas dalam genggaman, gelas pasti jatuh dan pecah. Terlepas dari apakah anda suka atau tidak suka. Karena itu terjadi otomatis! Walau gravitasi tak terdeteksi panca indra, tapi ia ada dan bereaksi di alam.

Buku Quantum Ikhlas tidak hanya menyingkap rahasia Hukum Tarik Menarik yang ada di alam. Di sini juga dibahas, bahwa pikiran berdasarkan aspek kesadarannya dibagi menjadi dua bagian : sadar dan bawah sadar.

Pikiran sadar yang dimaksud adalah ketika seseorang sedang berpikir menggunakan otaknya. Padahal kekuatan otak ini hanya mengusai 12% dari keseluruhan kekuatan pikiran manusia. Lha yang 88% ke mana? Kekuatan mayoritas pikiran manusia merupakan kekuatan bawah sadar yang secara umum hanya muncul dalam bentuk perasaan. Dengan kata lain, perasaan jauh lebih bertenaga dalam menarik segala energi dibanding pikiran manusia.

Erbe Sentanu begitu cerdas menuntun pembacanya pada realitas yang selama ini mungkin telah disalahpahami oleh banyak orang. Hebatnya, ia tak hanya bicara mengenai pembahasan yang abstrak, tapi juga menyertakan contoh-contoh kongkrit yang bisa dibuktikan secara empirik, melalui penelitian-penelitian para ahli Ilmu Alam. Bagi yang alergi dengan buku-buku dengan bahasa menasehati atau justru anti dengan buku yang bahasanya terlalu teknis, Quantum Ikhlas adalah pilihan tepat. Karena fakta-fakta ilmu pengetahuan alam yang digunakan sebagi pendukung pemikirannya begitu kredibel dan lumayan komplit. Selaras dengan ajakannya untuk memahami kembali fitrah manusia yang diciptakan Tuhan.

Bagi anda yang ingin tahu lebih banyak rahasia sukses dunia-akhirat, silakan cari di buku ini. Dijamin anda akan sering-sering berpikir, “Oww..ternyata gitu to..”.

Nah, apakah anda bingung dengan penjelasan saya? Penasaran? Atau malah sudah membaca dan memahaminya? Saya tunggu komentarnya..

10 Kelebihan Penulis Dibanding Pekerjaan Lain

(sumber gambar:http://frantau.files.wordpress.com)
“Kenapa sih kamu ngebet banget pingin jadi penulis?” lagi-lagi pertanyaan seperti itu menghampiri saya. Sudah beberapa kali sebenarnya saya ditanyai teman, dengan pertanyaan serupa. Kalimatnya sih tidak sama persis, tapi intinya ya tentang itu.

Mereka tanya, mengapa kok saya merawat obsesi “tidak wajar”, jadi seorang penulis (setidaknya penulis masih jadi profesi langka dan asing di desa saya). Padahal, profesi yang lagi in di kalangan pemuda jaman sekarang kan jadi PNS, bahkan yang lebih “ekstrem”, jadi artis.

Profesi pertama dipilih karena relatif aman. Gaji tetap dibayar full walau ,mungkin, sering absen. Yang berprestasi atau yang cuma masuk sekedar ngisi presensi, gajinya imbang. Dan pastinya, sudah nggak kerja pun masih dibayar! Alias nrima pensiunan.
Profesi kedua dipilih karena akhir-akhir ini, mayoritas remaja kita punya bakat yang sama, yaitu narsis. Jadi artis merupakan jenis pekerjaan yang tepat untuk menyalurkan bakat. Lalu kalau penulis? Bah, apa pula itu?!

Baiklah, ini alasan saya mengapa getol banget pingin jadi penulis.
1. Saya hobi baca, otomatis suka nulis.
Seperti yang pernah saya ungkapkan dalam posting sebelumnya, bahwa saya telah kecanduan membaca. Membaca bukan lagi menjadi hobi, tapi kebutuhan. Seperti juga kebutuhan makan dan minum. Maka kebutuhan menulis menjadi efek samping yang otomatis menjangkiti saya, setelah kebutuhan membaca.

2.Senang rasanya bisa menyentuh hati orang lain dengan pikiran kita, melalui tulisan.

Saya teringat akan novel Laskar Pelangi yang sempat membuat seorang remaja di Bandung “tobat” gara-gara tersentuh hatinya setelah membaca karya Endrea Hirata itu. Nah, saya juga ingin seperti Andrea yang bisa menyentuh hati orang lain melalui tulisan. Hehe,..

3.Penulis, asal ditekuni juga bisa punya penghasilan lumayan dan relatif cepat.

Kenapa saya bilang lumayan? Karena penghasilan yang didapat dari jual tulisan tak bisa dibilang sedikit. Rowling, si pencipta tokoh fiktif Harry Potter yang kesohor itu bahkan bisa menjadi penulis terkaya di dunia dengan pengasilan $ 9 per detik! Tinggal mengalikan berapa pengasilannya sehari, sebulan, dan seterusnya.
Walaupun di Indonesia belum ada yang seperti itu, dan sangat mungkin masih kalah dibanding gaji seorang menteri, setidaknya masih cukup untuk hidup sedikit di atas pas-pasan di kota se-kecil Blitar, tempat tinggal saya.
Kenapa saya bilang relatif cepat? Kita tak perlu nunggu lulus sekolah atau kuliah jika mau menulis&dapat uang. Kalau niat, bisa saja cari ilmu sambil nyambi jadi penulis. Bandingkan dengan jenis usaha konvensional lainnya yang membutuhkan konsentrasi khusus, sehingga sulit untuk disambi mengerjakan aktifitas lain.

4.Jadi penulis tak butuh kekuatan otot, masa pensiun lebih lama.

Jelas sekali bahwa menulis tak begitu mengandalkan kekuatan otot. Pekerjaan ini sangat pas bagi orang-orang yang tak punya badan kekar, termasuk saya tentunya. Dan lagi, karena kekuatan otot bukan modal utama, masa pensiunnya pun lebih awet. Asal jari tangan masih bisa digerakkan, menulis masih bisa dilakukan. Rosihan anwar sudah membuktikannya. Walau usianya tak lagi muda, tapi tulisannya tak berkurang kualitasnya.

5.Pekerjaan menulis tak banyak menyita banyak waktu.

Dengan jadi penulis, saya masih punya banyak waktu untuk melakukan hobi lain; sms-an, baca buku, bercocok tanam, juga godain si hitam-putih_kucing kami satu-satunya_yang suka sewot kalau dicolek. Hehe,.

6.Penulis tidak terikat waktu.

Jadi penulis lepas, bebas dari kekangan waktu. Tak ada aturan harus mulai jam sekian& selesai sekian jam, tidak. Walaupun dengan disiplin hasilnya bisa lebih bagus, tapi itu bukan syarat mutlak.

7.Penulis tidak menggantungkan hidupnya pada ijazah, saingan lebih sedikit.

Saya tak ingin menyerahkan nasib pada ijazah, seperti mayoritas penduduk kita yang PDnya melesat ketika ijazah S1 dan seterusnya sudah digenggam. Seolah-olah itulah kunci kesuksesan hidupnya. Padahal ijazah bukan jaminan masa depan cemerlang. Nggak percaya? Buktinya, di negri ini ada ratusan ribu sarjana nganggur. Tercatat di tahun 2009 ada 900.000 lebih sarjana menganggur (sumber : www.menkokesra.go.id).
Dengan jadi penulis, nggak perlu pusing mikirin ijazah belum keluar. Atau bahkan tak punya ijazah tinggi. Gak pernah ada ceritanya penerbit tanya, “Anda lulusan mana?” atau “Anda lulusan apa?”. Asal tulisan bagus, pasti ditrima. Bahkan Ajip Rosidi, seorang penulis jempolan negri ini ternyata SMA saja tak lulus.
Dan lagi, jadi penulis saingannya relatif sedikit. Saya yakin, dalam satu sekolahan ketika ditanya cita-cita, pasti tak ada seperempatnya yang kepikiran jadi seorang penulis. Bahkan profesi penulis kalah ngetrend dibanding profesi idaman di desa saya(mungkin juga di lingkungan anda), yaitu jadi TKI ke negri ginseng/jepang&jadi seorang PNS! Setuju?

8.Jadi penulis juga tak terikat tempat.

Di manapun juga, kita tetep bisa kerja (nulis) asalkan otak masih meringkuk dalam tempurung kepala. Hehe,..

9.Penulis tak butuh banyak modal.

Menjadi penulis tak butuh modal besar, seperti jamak terjadi pada jenis usaha konvensional. Juga tak butuh ketrampilan handal. Modal utamanya adalah : cukup bisa baca dan menulis, ya sudah. Kalau butuh beli pulpen dan kertas, itu wajar. Namanya juga usaha..

10.Penulis tetap hidup, walau sudah jadi mayat.
Mohon jangan salah paham. Yang saya maksud adalah seorang penulis masih bisa dikenal orang lain melalui tulisannya, walaupun ia sudah meninggal. Masih bisa bercakap-cakap dengan pembaca tulisan kita. Jika tulisan kita bermanfaat, insyaAllah itu akan menjadi ladang amal yang takkan terputus memberi manfaat kepada penulisnya.

Nah itulah alasan kenapa saya masih saja terobsesi menjadikan penulis sebagai profesi idaman. Dan ngeblog seperti ini, menjadi sarana untuk mengasah kemampuan. Bagaimana dengan anda? Apakah ada yang ingin menyanggah atau malah ingin menambahi?

Kutitipkan mimpiku padaMu, untuk Ibu





Menyambut hari Ibu, kepersembahkan sebuah sajak pada Ibu


Ibu
Seandainya raga ringkih ini membudakkan dirinya utuh, padamu
Takkan cukup menyumbat curah kasihmu

Bila mentari tlah mbalelo menyapa bumi,
Sungguh
Pengabdianmu menjaga nyala hidupku, takkan ikut padam

Taruh nyawa kau ambil
Demi nyawa baru yang kelak bisa berubah kerikil,
dalam kehidupanmu

Tapi kau tak peduli
Tak pernah terpikir akan balas kau dapat nanti

Sering ku termanja
Hingga tak kuasa berjiwa rupa Sugriwa
Hanya bisa berjingkrak menghujat,
memekik meminta

Tapi engkau tetaplah Dewi Sri-ku, Ibu
Tanpa ragu kau sisihkan potongan hidupmu
Demi kehidupan baru

Ibu,
Aku tahu
Tak pantas (sebenarnya) ku mengaku anakmu
Karena sungguh
Jangankan mempersembahkan cinta
Yang sering,
ku suguhi engkau nelangsa
Karena kenakalanku
Karena kekanak-kanak’anku yang tak pernah menjadi dewasa di pangkuanmu

Doamu Ibu
Panjatmu setiap dini hari tentangku
Aku janji
Kelak kan ku antar engkau mengadu, mengharu biru padaNya
Bersujud pasrah luruh, merindu fitrah
Di sana, Makkah Al-Mukaromah


Untuk ibuku terkasih. Dan seluruh ibu di dunia yang penuh kasih.

Penulis, juga kerjaan Lo!


Menulis, menjadi seorang penulis, sama sekali tak terlintas di pikiran saya sejak kecil. Bahkan sejak saya bisa nulis "Ini Budi", ketika saya telah duduk di kelas nol besar!

Penulis bukanlah bagian dari deretan cita-cita mulia. Sangat tidak familiar di telinga mayoritas masyarakat kami, di kampungku (bahkan mungkin di seantero Indonesia juga?).

Kata-kata "penulis" terlalau asing. Lebih asing dari alien, si makhluk asing luar angkasa yang konon ada itu. Kenapa saya bilang begitu? Ya. Karena sejak dulu_semenjak saya TK hingga STM(sekarang SMK)_tak pernah sekalipun guru saya merekomendasikan bahwa Penulis adalah cita-cita juga. Pekerjaan yang bisa mengasilkan uang.

Bermacam cita-cita yang pernah terlontar dari mulut-mulut kami dulu (sewaktu TK), mulai dari guru, mantri sunat, dokter, pilot, astronot, polisi, sampai presiden_penulis tak pernah masuk hitungan. Mengutip kata-kata Arswendo, "Padahal itu boleh dan bisa sebagai salahsatu pilihan".

Namun akhirnya pemahamanku berubah, tentang penulis dan menulis itu sendiri. Tepatnya kapan, aku tak ingat persis. Tapi penyebabnya apa, sedikit-sedikit saya masih ingat.

Sekitar dua tahun lalu, setelah aku mendaftar sebagai anggota perpustakaan kota Blitar. Maklum, waktu itu saya masih terbilang baru jadi anak kuliahan. Lagi semangat-semangatnya belajar. Lagipula gengsi dong, masak anak kuliah ndak pernah baca buku. hehe,..

Bermula dari gengsi-gengsian jadi anggota perpustakaan itulah tanpa sengaja saya temukan sebuah buku bagus. Penulisnya bilang, "buku bergizi". Walaupun buku lama (terbitan tahun 2004), tapi isinya benar-benar baru bagi saya. Buku itu berjudul Andaikan Buku itu Sepotong Pizza. Penulisnya bernama Hernowo. Sebuah nama yang baru sekali saya dengar, ya dari buku itu.

Buku itu bagus, sangat bagus malah. Itu menurut saya. Isinya benar-benar berbobot, sangat bermutu. Tapi komohon, kalian jangan dulu salah sangka. Saya memuji buku itu bukan berarti saya staf marketingnya lo. Saya cuma pingin cerita pengalaman saya saja. Kalau baik silakan pakai, kalau menjerumuskan silakan ditinggal. Oke? Baiklah saya lanjutkan.

Buku itu bicara seputar : Cara membaca yang baik, benar, dan mengasikkan. Lho, cuma begitu dibilang bagus? Sebentar, jangan menyela. Baca saja dulu sampai tuntas.

Dijelaskan dalam buku itu, bahwa membaca buku tak jauh beda dengan menikmati makanan. Tepatnya pizza. Kita bisa dan boleh mulai membaca dari mana saja. Tidak harus dari awal, halaman pertama. Suka-suka saja lah. Pilih yang kelihatan bagus, lalu baca. Seperti kalau kita makan pizza, tak ada aturan kita mesti mulai makan dari sebelah mana. Bahkan sah-sah saja kalau kita makan dari tengah, atau mencukili isi pizza yang kelihatan paling enak.

Asiknya, kalau makan pizza tidak habis akan mibadzir & eman-eman, membaca buku tidak. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan kali lebih dibaca, khasiat buku takkan ikut habis.Alias tetap utuh.

Nah, dari pak Hernowo pula, saya jadi tau tips sakaw membaca, keranjingan membaca. Kenapa saya bilang begitu? Karena setelah saya praktekkan sarannya, saya benar-benar kecanduan membaca.

Setiap ada waktu luang, saya selalu menyempatkan membaca. Apa saja. Walau cuma baca komik atau sobekan koran bekas bungkus cabe_dari belanja ibu. Uniknya, kalau sakaw narkoba terasa menyiksa, sakaw membaca nikmat tak terkata.

Dalam sehari, rugi rasanya kalau saya melewaktan aktifitas baca.Rasanya, seperti kurang sempurna hidup ini. *haiyah*

Bukan hanya itu. Ternyata lagi, pada tingkatan tertentu kecanduan membaca menyebabkan pula hasrat menulis. Dan itu terjadi secara otomatis!

Saya umpamakan dua aktifitas ini (baca-tulis)seperti siklus makan pada hewan bernama musang.

Pernahkah kalian mendengar kopi musang? Kopi yang dihasilkan musang.

Musang yang makan kopi secara terus-menerus akan secara lagsung mengeluarkan biji kopi melalui saluran pembuangan. Yang mengagumkan, terjadi simbiosis mutualisme antara musang dan pemiliknya. Musang dapat nutrisi dari kulit&buah kopi, bijinya dikonsumsi manusia sebagai kopi bercitarasa tinggi. Mahal harganya.

Begitu juga pikiran manusia yang begitu terbatas daya tampungnya, seperti pencernaan musang tadi. Jika memori ini terus terisi dengan asupan nutrisi, melalui membaca, pasti ia kebelet mengeluarkan apa yang telah ia cerna. Melalui tulisan. Ya menulis itu. Jika menulis itu dilakukan, maka kelaparan membaca justru akan semakin menjadi. Siklus seperti ini terulang terus-menerus.

Seperti juga si musang, pembaca yang mau menulis kelak juga akan menciptakan simbisosis mutualisme. Ia membaca dapat pengetahuan baru, sementara orang yang membaca tulisannya juga ketularan dapat ilmu.

Nah, dari sini lah lalu saya memberanikan diri jadi follower . Mencita-citakan pekerjaan yang, barangkali, tidak lazim untuk ukuran orang desa seperti saya. Sebuah profesi yang sewaktu kecil dulu saya tak pernah mendengarnya. Menjadi PENULIS!

Untuk seorang pemula, tulisan saya di atas bagus kan..Buktinya anda membacanya sampai tuntas!
hahaha,..
:D

Penulis adalah asli orang Blitar. Lahir dan didewasakan di Blitar. Kini sedang menyelesaikan kuliahnya di sebuah Universitas swasta di Blitar jurusan Ilmu komunikasi. Bisa dihubungi di E-mail / face book : bening_firdaus@yahoo.com

sumber gambar anak menulis : http://images.google.co.id

“MAAF” yang membingungkan

Sejak sebulan lalu saya kebelet pingin nulis, tentang apa saja asal menarik. Tapi sebelnya, semakin saya ngebet, semakin ide di kepala saya seolah mampet. Hingga akhirnya, ilham penulisan itu datang. Melalui seorang lumpuh yang tak sengaja saya lihat di jalan.

Waktu itu (kalau tidak salah) sepulang dari perpustakaan tanpa sengaja saya melihat orang lumpuh di pinggir jalan. Seorang bapak yang menaiki kendaraan orang lumpuh. Kelihatannya sih desain sendiri. Bisa dilihat dari bentuknya yang tidak lazim. Tidak seperti kursi roda kebanyakan, tapi lebih mirip becak. Sama-sama beroda tiga. Bedanya, dua roda berada di bagian belakang kendaraan, tepat di samping tempat duduk pengemudi. Sementara satu roda lainnya, justru berada di depan. Persis becak yang dipotong jadi dua bagian, depan dan belakang. Dan potongan bagian buritan disambungkan tepat di depan dudukan kemudi. Nah, di bagian roda depan ini terhubung dengan dengan pedal yang dikayuh dengan kedua tangan. Pedal itu pula yang merangkap fungsinya sebagai setir kemudi . Sepintas terkesan unik.

Ketika saya melihatnya, reflek, saya kendorkan gas motor saya. Penasaran. Bukan karena uniknya kendaraan yang saya lihat, bukan. Tapi saya penasaran, ingin melihat lebih dekat tulisan yang tertera di bagian kendaraan itu. Yang letaknya tepat di belakang sandaran tempat duduk pengemudinya.

Setelah begitu pelan laju motor saya, tulisan itu pun terbaca. Begini bunyinya : “MAAF. Cacat karena tsunami”

Sekilas mungkin biasa. Tapi coba perhatikan benar kata yang saya tulis dengan huruf kapital. Kata itu berbunyi “MAAF”. Gara-gara kata “maaf”, selama perjalanan pulang pikiran saya terusik. Kenapa mesti minta maaf? Memangnya cacat itu sebuah kesalahan? Atau karena ia merasa menghambat lalulintas, mengganggu kenyamanan pengguna jalan lain?

Kontan aku pun bereaksi, “Seharusnya bapak tidak perlu minta maaf! Bapak tidak bersalah! Coba bapak lihat pemuda-pemuda urakan itu. Mereka yang naik motor dengan bunyi knalpot yang meledak-ledak. Ngebut semaunya. Mereka tak pernah minta maaf. Juga sopir bus dan angkot yang suka nyalip lalu tiba-tiba ngerem ndadak itu. Mereka enjoy saja. Tak pernah merasa bersalah, apalagi inta maaf. Padahal banyak pengguna jalan lain yang protes dengan tingkah ugal-ugalan mereka. Kenapa justru bapak yang tidak bersalah mesti minta maaf?!” aku pun ngomel-ngomel. Dalam hati.

Lalu tibalah saya di ruas jalan yang dicegat sebuah papan peringatan bertuliskan : “Maaf, jembatan sedang dalam perbaikan”. Di sebelah papan tulisan, terpancang rambu dilarang masuk. Saya pun putar haluan mencari jalan lain. Tapi pikiran saya terlanjur nyangkut di papan peringatan itu. Lagi-lagi saya dibuat bingung dengan penggunaan kata “maaf”. Kenapa mesti minta maaf? Bukankah perbaikan jembatan itu demi kepentigan bersama? Se-begitu sensitif kah perasaan orang di negri ini? Sampai harus mencantumkan kata “maaf” demi menjaga agar tidak menciderai perasaan orang lain?

Kenapa tidak ditulis saja : “Jembatan sedang diperbaiki. Silakan lewat jalan lain”. Toh para pengguna jalan yang melihatnya sudah paham. Kecuali yang buta huruf. Hehehe,..

Saya jadi teringat tentang pengalaman saya yang lain. Masih berhubungan dengan kata “maaf”. Yaitu ketika saya menjahitkan celana di tukang jahit. Waktu itu mau lebaran.
Saya tanya ke tukang jahit, “Pak, kapan bisa diambil?”.
Dia jawab, “Seminggu lagi” dengan anggukan yang mantap dan pasti. Seminggu kemudian saya datang mengambil. Tapi alangkah kecewanya saya ketika si penjahit bilang, “Maaf belum jadi mas. Silahkan datang 3 hari lagi”. Apa boleh buat, saya pulang dengan sekepal rasa kecewa. Nah, yang bikin jengkel, setiap kali saya datang, setiap kali pula penjahit selalu memberi janji. Berbagai alasan yang keluar pun berganti-ganti. Yang banyak pesanan lah, yang pelanggan anu minta didahulukan lah, ini lah, itu lah. Sampai saya capek mendengarnya.

Uniknya, setiap janji yang dia berikan selalu diembel-embeli kata “maaf”. Dan lebih unik lagi, setiap kali penjahit bilang maaf, samasekali tak tersirat nada orang bersalah. Wajahnya tetap kalem dan tenang. Seperti wajah polos bayi baru belajar berjalan yang tak sengaja memecahkan vas ibunya. Raut mukanya tetap cool, padahal si ibu jengkel bukan main.

Dari beberapa kejadian yang pernah saya alami, saya pun dibuat bingung. Sebenarnya apa sih fungsi kata “maaf”? Dulu sewaktu saya masih SD, ibu selalu mengajarkan agar saya harus minta maaf bila berbuat kesalahan terhadap orang lain. Siapapun orang itu. Dan janji untuk tidak mengulang lagi kesalahan serupa. Waktu itu saya berkesimpulan, bahwa kata maaf digunakan sebagai penghapus kesalahan kita terhadap orang lain, agar orang yang kita salahi mau dengan sukarela mengikhlaskan perbuatan kita yang keliru. Pemahaman itulah yang saya pegang selama ini.

Namun beberapa kejadian yang saya temukan kemudian menggoyahkan pemahaman saya tentang penggunaan kata “maaf” sebelumnya.

Pertama, tentang si supir angkot dan bus yang suka seenak udelnya di jalanan itu. Banyak yang merasa jengkel dengan ulah mereka. Apakah itu bukan kesalahan? Kalau iya, buktinya sampai saat ini saya belum pernah sekalipun melihat mereka minta maaf kepada orang yang telah dibuat jengkel. Bukankah kalau salah mesti minta maaf?

Kedua, tentang kata “maaf” yang digunakan selagi jembatan dalam perbaikan. Saya menilai “maaf” dalam perbaikan itu bertujuan agar pengguna jalan tidak tersulut jengkel. Padahal jelas, memperbaiki jembatan bukan sebuah kesalahan. Baru kalau jembatan rusak hingga menelan korban itu baru salah. Petugas yang bertanggung jawab mengurusi jembatan itulah yang salah. Lalu apakah benar perasaan orang di negeri ini begitu halus? Saking halusnya, hanya karena takut perasaan orang lain terluka, kata “maaf” perlu di ucapkan. Padahal tidak melakukan kesalahan.

Ketiga, kata ‘maaf’ yang begitu lentur terucap dari mulut si penjahit tadi. Jelas dia bersalah karena melanggar janji. Anehnya, setelah dimaafkan, dengan santainya dia mengulang lagi kesalahan yang sama. Dari sini saya punya kesimpulan lain tentang fungsi kata “maaf”, yaitu untuk mengelak dari tanggung jawab. Buktinya, si penjahit tadi ditagih jahitan, kata “maaf” lah yang buru-buru di sodorkan . Bukan jahitan celana saya yang sejak lama saya butuhkan. Apakah itu namanya sikap yang bertanggung jawab?

Kawan, jujur saja. Sampai tulisan ini diposting, saya masih bingung. Sebenarnya kata “maaf” itu fungsinya untuk apa sih?
:D

Penulis adalah asli orang Blitar. Lahir dan didewasakan di Blitar. Kini sedang menyelesaikan kuliahnya di sebuah Universitas swasta di Blitar jurusan Ilmu komunikasi. Bisa dihubungi di E-mail / face book : bening_firdaus@yahoo.com

sumber gambar : http://ferdinandolase.files.wordpress.com

(Masih) Pantaskah Manusia Menjadi Kholifah?

Untuk kesekian kali aku dikeroyok pertanyaan. Mereka menuntutku, menginterogasiku, membetot jawaban dari mulutku.

"Apa arti pintar bagi manusia?!" seloroh yang memukulku telak di ulu hati.
"Apakah dengan kepintaran yang kau punya, kau merasa mampu menjaga bumi Tuhanmu, yang kau akui sebagai milikmu?!" teriak yang mengepit kedua lenganku dengan teriakan pekik di telinga.
"Apakah kalian (manusia) sudah merasa hebat setelah hutan terbabat?!" susul yang menjambakku, sebelum sempat kujawab pertanyan sebelumnya.

Lalu saling timpal pertanyaan-pertanyaan berikutnya yang tak terdengar jelas semuanya. Telingaku perih, dijewer ke kanan ke kiri. Aku merasa nyeri di ulu hati akibat tonjokan yang terasa tembus hingga meremas nyali. Suara-suara itu hanya terdengar berdengung, berjejalan di tempurung kepalaku. Lalu meluber, sebagian mengalir ke relung celah kemanusiawianku. Memprotes keadilan.

Tapi mulut hatiku hanya bisa meringis, tak mampu menjawab satu pun pertanyaan. Dalam batin pun cuma bisa menjawab gagap.

Mata batinku memaksa melek, walau dengan menahan pedih. Melihat kenyataan, bahwa : manusia yang diukir sedemikian indah dan canggih oleh Tuhannya telah dengan brutal merajah-rajah ekosistemnya sendiri. Demi gengsi kebengalan adu nyali dan okolnya, mereka cacah bahtera yang mereka tumpangi bersama. Nalar, terutama nurani, mereka telah lama karatan. Karena terlalu lama dinganggurkan.

Manusia yang seharusnya menjaga laju dan menaungi penumpang lain, justru menggasak sesama (makhluk) secara brutal dengan amuk berkecamuk. Menyebabkan kapal compang-camping. Beberapa penumpang lain terjungkal terhempas. Sementara lainnya pasrah menunggu karam jama'ah.

oh, inikah kemajuan yang sering mereka gembar-gemborkan?
Inikah peradaban yang meraka harap dan nantikan?
Masihkah titel kholifah itu pantas mereka sandang?

Belum sempat ku jawab satu pun pertanyaan, lagi-lagi teriakan mengucur deras menghajarku. Belum sempat ku jawab satu pun! Hingga kini.
Aku keburu pingsan. Dengan jawaban-jawaban gamang yang kembali tertelan.

Penulis adalah asli orang Blitar. Lahir dan didewasakan di Blitar. Kini sedang menyelesaikan kuliahnya di sebuah Universitas swasta di Blitar jurusan Ilmu komunikasi. Bisa dihubungi di E-mail / face book : bening_firdaus@yahoo.com

Hanya Manusia “Super” yang bisa Survive

Semangat, iman, adalah abstrak yang bersifat seperti udara dalam ban sepeda. Kadang penuh, kadang separuh, bahkan hilang samasekali sehingga ban nampak lusuh.

Setelah bergaul dengan si anu, setelah membaca buku itu, sangat mungkin kobar semangatmu tak mampu ditahan hingga mata berpendar pijar.

Namun bisa saja, karena hal-hal sepele tiba-tiba saja hasrat lindap, hilang pula digdaya.

Begitu juga dengan nafsu menulis.

Bila semangat sedang menggeliat mekar-mekarnya, sampai-sampai tangan mengepit pena tak mampu mengiring ide yang terus saja tercurah_muncrat dari benak.

Tapi tak jarang, jika mood benar-benar kering, bikin catatan kecil pun malas.

Sangat benar kiranya, seorang "juara"_manusia di atas rata-rata_macam Nabi Muhammad SAW, Soekarno, Sutan Syahrir, dokter Sutomo, Gandhi begitu dikenang hingga berabad lewat. Bukan penampilan necisnya tentu. Tapi buah pikirannya yang selalu relevan menembus jaman.

Mereka mampu mengolah emosi. Menjaga liukan nyala semangat dalam jiwa dan pikirannya. Mengatur tingkah lakunya. Dan juga mengendalikan nafsu sedemikian rupa.

Tapi ingatlah kawan. Semua manusia yang terlahir di bumi dibekali kamampuan yang sama. Setuju? Okelah, setidaknya persis. Dan hanya orang-orang super yang mampu memenej segala sesuatu dalam dirinya-lah, yang pantas menyandang predikat menusia plus-plus. Manusia di atas rata-rata. Luar biasa!
Mau?

Penulis adalah asli orang Blitar. Lahir dan didewasakan di Blitar. Kini sedang menyelesaikan kuliahnya di sebuah Universitas swasta di Blitar jurusan Ilmu komunikasi. Bisa dihubungi di E-mail / face book : bening_firdaus@yahoo.com

sumber gambar : http://1.bp.blogspot.com

Sudahkah kamu merasa cantik?

Cantik itu berarti kulitnya putih, rambutnya lurus, badannya langsing. Benarkah demikian ? Itukah kriteria cantik menurutmu?

Pasti kamu sudah nggak asing lagi dengan iklan pemutih wajah yang bisa memutihkan hanya dalam 7 hari. Atau shampo yang mampu yang mampu membuat pemakainya digilai 9 dari 10 pria. Serta masih banyak lagi iklan yang intinya memoles keindahan fisik.

Itulah mengapa mayoritas remaja, satu suara dalam merumuskan kriteria cewek ideal. Kulit putih, rambut lurus terurai, tubuh langsing, dan bebas jerawat. Lainnya mungkin tak sama persis, tapi serupa.

Saya yakin, pembaca artikel inipun setuju dengan kriteria cantik (versi iklan) di atas. Bahkan saya juga yakin, di antara para para pembaca artikel ini tak jarang adalah pemakai setia produk kecantikan itu. Tak peduli berapapun usianya, tanpa mempertimbangkan latar belakang sosial masing-masing. Entah itu orang kota, desa, atau gunung sekalipun (maaf, bila ada yang tersingggung..hihi..). Benarkah begitu ? Silakan dijawab sendiri-sendiri.

Tahukah kamu, banyak diantara para cewek yang saking gilanya dengan konsep cantik rela tersiksa hingga meregang nyawa ? Nggak percaya ?

Ana Carolina Reston, fotomodel top Brazil yang namanya meroket di usia yang masih terbilang belia, 21 tahun, begitu terkenal dengan kecantikannya. Pada 14 November 2006 lalu, ia meninggal di Sao Paulo karena infeksi yang menyerang tubuhnya akibat anoreksia nervosa¬_gangguan psikologis yang menyebabkan ia tak mau makan agar nampak selangsing mungkin.

Ketika maninggal, berat badannya hanya 40 kg. Kata dokter, itu berat badan ideal untuk bocah 12 tahun dengan tinggi 152 cm, bukan untuk Ana yang tingginya 172 cm! Ibunya mengaku, sejak 2 bulan sebelum kamatiannya, Ana hanya makan apel dan tomat! Wuihh..gila nggak tuh..

Bukan hanya itu. Sebelum Ana, Luisel Ramos fotomodel asal Uruguay juga meninggal saat fashion show karena gagal jantung. Lagi-lagi penyebabnya adalah diet yang terlalau ketat. Semua demi kecantikan!

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Jika dua contoh di atas (Ana dan Luisel) mati-matian diet agar masuk standard cantik, di sebuah negeri di Afrika lain lagi.

Di kota Nonakchott, Mauritania, standard cantik adalah gemuk. Maka jangan heran bila melihat seorang bocah perempuan yang dipegangi ayahnya sementara sang ibu tanpa ampun mencekoki susu manis dan bubur. Tujuannya pasti, agar sang anak kelak menjadi cantik. Ironis memang, tapi itu nyata.

Asal tahu saja, di negeri yang mayoritas penduduknya masih nomaden ini orang-orangnya miskin dan kurus. Sehingga mereka berasumsi; gemuk berarti makmur. Semakin gemuk wanita, semakin seksi-lah namanya, sosok wanita ideal.

Tak perlu jauh-jauh. Saya sempat mempunyai seorang rekan yang (maaf) wajahnya rusak karena iritasi kosmetik. Penyebabnya sepele, sekaligus nekat menurut saya. Betapa tidak. Ia yang begitu terobsesi dengan kecantikan, nekat menggunakan kosmetik (sejenis penghilang jerawat) yang seharusnya belum boleh ia pakai. Seingat saya, ia menggunakannya ketika masih SMP, secara berlebihan pula.

Hasilnya, bukan kulit halus mulus yang ia dapat. Melainkan wajah yang (sekali lagi maaf) rusak iritasi. Hingga sekarang, anaknya sudah dua, bekas iritasi itu masih ada. Tuh kan…

Satu hal yang akhirnya menjadi kesimpulan saya, banyak gadis yang rela berbuat apapun agar dinilai cantik, secara fisik. Seolah telah lupa atau mungkin melupakan, bisa jadi tak mau tahu, bahwa cantik hati itu lebih penting daripada kecantikan fisik.

Harus disadari memang. Peran media peran media dalam membentuk trend di masyarakat sangat besar, terutama televisi. Segala hal yang berkaitan dengan industri fashion, kosmetika, dan entertainment yang diolah sedemikian wah membuat para gadis kebingungan menentukan arah. Kehilangan jatidiri mereka sebagai calon seorang ibu.

Menurutmu, pantaskah seorang calon ibu, pendidik anak, dengan enjoynya berhotpen plus tangtop kemana-mana? Ingat, negeri kita briklim tropis. Pakaian serba kurang bahan lebih cocok dipakai di Paris saat musim panas tiba, coy...

Kalau kita mau bijaksana, mestinya kita lebih selektif memilih berbagai informasi yang disuguhkan media. Bukankah dengan ilmu, kita jadi bisa membedakan mana yang layak dan mana yang tidak ?!

Ingatlah ibu Kartini, pahlawan perempuan yang tidak hanya berparas ayu, tapi hatinya juga mulia. Dengan buah pikirannya, Ia telah membuktikan betapa wanita Indonesia pantas disandingkan dengan pria. Disejajarkan martabatnya.

Dalam kesederhanaan sekapnya, tersimpan cita-cita mulia untuk meningkatkan kualitas pendidikan wanita pribumi. Ia yang terkungkung fisiknya oleh peraturan ketat kalangan ningrat, mampu memerdekakan pikirannya. Berbuat sesuatu demi kepentingan kaumnya.

Ia yang rela dijodohkan dengan Bupati beristri 3 beranak 6 tidak mau begitu saja menyerah pada nasib. Bukan membangkang, namun berpikir positif. Dengan menjadi istri Bupati ia akan memperoleh kesempatan mendirikan sekolah bagi wanita pribumi.

Hingga di usia pernikahannya yang ke-10 bulan, ia meninggal, setelah melahirkan anak laki-laki. Ia meninggal 3 hari setelah melahirkan karena pendarahan akibat besarnya janin.

Sungguh sosok wanita yang luar biasa. Ia yang lahir dengan kodrat wanita, memiliki cita-cita besar terhadap kaumnya. Walau begitu, ia tak lantas melupakan tigasnya sebagai sosok seorang ibu. Ibu yang berjuang dalam melahirkan anaknya dengan nyawa sebagai taruhannya.

Maka tidak berlebihan bila tanggal kelahirannya diperingati setiap tahun. Sebuah lagu yang indah diciptakan untuknya. Puluhan tahun telah lewat, idenya tak juga usang dikikis masa.

Itulah bedanya, cantik fisik dengan cantik kepribadian. Terbukti sudah, mana yang lebih penting dan awet. Nah, apakah sekarang kamu bisa menyimpulkan sendiri seperti apa kriteria cantik itu?


Penulis adalah asli orang Blitar. Lahir dan didewasakan di Blitar. Kini sedang menyelesaikan kuliahnya di sebuah Universitas swasta di Blitar jurusan Ilmu komunikasi. Bisa dihubungi di E-mail / face book : bening_firdaus@yahoo.com

suber gambar : http://sweetrabbit.files.wordpress.com