Melancong ke Samarinda (#3)

Tradisi Makan Ikan dan Wadai

Kisahku kali ini masih merupakan cerita pengalamanku di Samarinda. Namun sedikit berbeda dengan tulisan sebelumnya tentang Masjid Islamic Center dan Eksotika Sungai Mahakam, kali ini tak berhubungan dengan tempat. Melainkan tentang tradisi kuliner orang Samarinda.

Begitu tiba di rumah budhe, aku langsung merebahkan badan di atas karpet ruang tamu. Kepala pening mabuk kendaraan, perut mual akibat tak bersua dengan nasi lebih dari 12 jam, kaki-tangan pegal sebab kebanyakan duduk, sungguh siksaan sempurna di antara sambutan sengat matahari khatulistiwa.

Setelah menyalami kami, tuan rumah masuk sebentar, lalu keluar dengan sebakul nasi, sayur terong, ikan goreng, tempe goreng, dan sambal terasi. Hmm..sungguh tuan rumah yang pengertian. Hehe.. Kami pun makan bersama.

Ini ikan haruwan. Silakan dicoba,” tuan rumah mempersilakan.
Kalau di Jawa ikan gabus,” ia menambahi sambil tersenyum, ketika aku tak langsung mencicipi waktu dipersilakan tadi.

Kucuil sedikit. Rasanya memang serupa dengan ikan gabus yang pernah kumakan. Hanya saja lebih hambar. Berhubung lapar, aku tetap bersantap dengan lahap.

Sambil makan, sepupuku menerangkan, “Di sini ikan menjadi lauk wajib. Makan belum sempurna tanpa lauk ikan”. Aku mendengar sambil mengangguk sesekali.

Ikan yang disantap bisa ikan laut maupun air tawar. Namanya pun sebagain masih asing di telingaku. Ada ikan haruan (yang ternyata ikan gabus ala Kalimantan), ikan biawan (seperti ikan sepat), ikan biji nangka (seperti tongkol namun berwarna merah), dan lain-lain.

Meski terdengar memalukan, harus kuakui: pertama kali aku
makan kepiting ya di Samarinda. hehe..

Di pasar tradisional dan di swalayan, mudah sekali dijumpai penjual ikan. Bahkan di beberapa ruas jalan, penjual ikan menggelar dagangannya di tepi jalan. Ikan yang di jual masih dalam keadaan segar. Beberapa dijual masih hidup. Di Blitar, hanya ikan lele yang dijual hidup-hidup.
Bila boleh berpendapat, Samarinda dan sekitar adalah surga pecinta ikan. Bagi kamu yang gemar makan ikan, lidahmu akan termanjakan di sini.

Wadai
Selain tradisi makan ikan yang terbilang tinggi, masyarakat Samarinda juga tak terlalu tergantung dengan: makan harus nasi. Lain dengan masayarakat di Blitar, setidaknya di desaku, yang selalu menyertakan nasi di setiap kesempatan makan: pagi, siang, dan malam.

Mereka mangganti nasi dengan kue, yang mereka sebut wadai. Cukup sarapan dengan 2-3 potong wadai dan minum air di pagi hari. Begitu juga di saat berbuka puasa, kala bulan Ramadhan. Lain sekali dengan orang Blitar kebanyakan, yang meski sudah makan dua mangkuk bakso, 3 biji pisang goreng, dan semangkuk mie ayam, belum bisa dikatakan makan, kecuali menyantap sepiring nasi. (Saya termasuk di antaranya. Hehe..)

Ada beraneka kue tradisional yang kujumpai di Samarinda. Namanya pun masih terdengar asing di telingaku. Ada amparan tatak (komposisinya dan rasanya seperti nagasari, hanya berbeda dalam penyajian), ada papare (bentuknya dan warnanya seperti kue kelepon, namun sedikit memanjang dan rasanya lain), bobongko, aneka lapis yang tidak dinamai lapis, serta serabi yang disajikan apa adanya. Tak seperti serabi di Blitar yang dimakan bersama dawet (cendol), sehingga terkenal dengan dawet serabi.

Wadai amparan tatak yang rasanya mirip nagasari

Khusus untuk wadai serabi, rupanya beberapa orang Samarinda yang berjiwa inovatif telah mengubah citra tradisional dan kampungan yang melekat pada serabi, dan menjadikannya serabi modern dan berkelas. Caranya? Bila serabi tradisional disajikan apa adanya, mereka menciptakan serabi aneka rasa. Rasa nangka, rasa duren, bertabur meses, taburan keju, nanas, dan lain-lain. Tempat penjualan pun tak lagi melulu di pasar tradisional, melainkan di tempat-tempat yang bila dikunjungi anak muda, tidak membuatnya turun pamor: di ruko dan depan supermarket. Mari acungkan jempol untuk sang inovator serabi. :-)

Sebuah contoh yang bagus bukan. Bila sudah demikian, kue-kue tradisional khas daerah se-nusantara yang jumlahnya bejibun, tak perlu minder lagi untuk go internasional. Sederajat dengan pizza-nya orang Itali atau burger-nya Paman Sam.

Nah, sebelum kue-kue tradisional Indonesia merambah mancanegara, alangkah baiknya bila kita mencicipinya lebih dulu. Tentu tak lucu bila suatu ketika orang bule bererita, “Serabi itu enak ya? Aku suka yang rasa duren”. Sementara kita cuma bengong. Jangankan mencicipi, dengar namanya saja baru sekali. Plis deh!

Sekian dulu cerita saya. Sampai bertemu di kisah saya selanjutnya.

Yuk makan wadai..
:-)

7 komentar:

wah.. puasa2 baca ini jadi ngiler nih mas... he..he....

 

Orang samarinda memang pecinta kuliner mas. bagi yang gemar makan, silakan bertandang. hehe

 

buat oleh-oleh ke blitar maz, meski secuil-cuil semuany suruh nyicipi, sebelum ditanyain bule hehe

 

ya, aku juga setiap kali main ke rumah sodara di samarinda, pasti pagi tidak ada jatah nasi, cuma ada kue dan teh manis

 

“Di sini ikan menjadi lauk wajib. Makan belum sempurna tanpa lauk ikan”
ehm..., rasanya tidak juga ya, atau karena lingkunganku di samarinda adalah lingkungan jawa ya?
:)

 

@ alief: ya, biar cuma wadai, yang penting "nyuguh". hehe

@ndaroini: mengenai itu aku juga kurang tau persis. aku hanya menulis yang ku alami saja. :)
mungkin juga lingkungan penduduk asli dengan pendatang punya perbedaan tradisi.

 

@iis: wah, kalo dbwa smp rumah basi mbak. :)

 

Posting Komentar